Jumat, 14 Desember 2012

a.n.f.i.s.m.a.n ~ Telinga



TUGAS ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA
TELINGA


Universitas Pancasila Logo.jpg

Disusun oleh :
            Nama : Anrelita Rachmadhiscka Oktaviane
            Kelas : D
            NPM : 2012210034



FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ..................................................................................................          2
Kata pengantar ..............................................................................................          3
BAB 2 ISI ........................................................................................................         4
I. Reseptor Sensorik ..............................................................................       ....        4
II. Telinga .............................................................................................        ....        5
A. Struktur telinga ...................................................................................      .....       5
B. Fungsi ................................................................................................        .....       7
C. Gangguan Pada Telinga ........................................................................    ....        8
C.1 Gangguan pada telinga luar .................................................................   ....        9
BAB 3 PEMBAHASAN ..................................................................................        15
Faktor-Faktor Yang Bisa Merusak Dan Membuat Telinga Budek ..................          16
Dampak Penggunaan Headset ....................................................................   ....        17
Penggunaan Headset Saat Tidur ..................................................................  ....        17
Pencegahan .......................................................................................................         18
BAB 4 KESIMPULAN ...................................................................................        19
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................        21







KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas izin dan ridho-Nya saya dapat menyelesaikan Tugas Anatomi Fisiologi Manusia . Tugas ini disusun untuk melengkapi tugas dari mata kuliah Anatomi Fisiologi Manusia.
Saya menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi penulisan maupun dari penggunaan bahasanya. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun supaya dapat menjadi perhatian saya di masa yang akan datang.
Akhir kata saya berharap semoga tugas ini dapat memenuhi tugas saya dan dapat bermanfaat bagi saya pada umumnya dan pembaca pada khususnya .
















BAB 2
ISI

I. Reseptor Sensorik
      1. Klasifikasi reseptor sensorik
                        Reseptor sensorik berperan untuk mentransduksi stimulus lingkungan menjadi impuls saraf. Reseptor ini dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber stimulus yang mempengaruhi ujung reseptor,jenis sensasi yang terdekteksi reseptor, distribusi reseptor, atau ada-tidaknya pada ujung reseptor.
            a. Sumber Sensasi
                 1. Eksteroreseptor sensitif terhadap stimulus eksternal terhadap tubuh dan terletak pada atau di dekat permukaan tubuh, misalnya; tekanann,sentuhan,nyeri pada kulit dan suhu,penciuman,penglihatan,serta pendengaran.
                 2. Proprioseptor terletak pada tubuh dalam otot,tendon,dan persendian ,juga mencakup reseptor ekuilibrium pada area telinga dalam. Jika distimulasi, bagian tersebut akan menyampaikan kesadaran akan posisi bagian tubuh, besarnya tonus otot, dan ekuilibrium.
                 3.Interoseptor (viseroseptor) dipengaruhi oleh stimulus yang muncul dalam organ viseral dan pembuluh darah yang memiliki inervasi motorik dari SSO. Contohnya adalah stimulus yang terjadi akibat perubahan selama proses digesti,ekskresi,dan sirkulasi.
b. Jenis Sensasi yang Terdeteksi
    1. Mekanoreseptor sensitif terhadap regangan,vibrasi,tekanan,propriosepsi, pendengaran,ekuilibrium,dan tekanan darah .
    2. Termoreseptor sensitif terhadap perubahan suhu .
    3.Reseptor nyeri (nosisreseptor) sensitif terhadap kerusakan jaringan. Semua reseptor sensoorik dapat berfungsi sebagai nosisreseptor jika stimulusnya cukup kuat.
    4. Fotoreseptor mendeteksi energi cahaya
    5. Kemoreseptor sensitif teradap perubahan konsentrasi ion,pH,kadar gas darah, dan glukosa darah. Jenis ini juga mencakup reseptor untuk indera pengecap dan penciuman.
c. Distribusi Reseptor
    1. Penginderaan umum mengacu pada informasi dari tubuh sebagai satu kesatuan
    2. Penginderaan khusus mengacu pada organ indera yang terletak dalam kepala
d. Ujung Reseptor Senseorik
    1. Ujung saraf bebas tidak memiliki lapisan seluler dan terdapat dalam kulit, jaringan ikat, dan pembuluh darah. Saraf ini merasakan nyeri,sentuhan ringan, dan suhu.
    2. ujung saraf berkapsul terbungkus dalam bermacam jenis kapsul dan terletak di kulit, otot, tendon, persendian, dan organ tubuh. Reseptor yang berkapsul diantaranya :
                 a. Korpuskel pacinian mendeteksi stimulus dan tekanan vibratori. Korpuskel ini banyak terdapat pada jari tangan, genitalia eksternal, dan payudara.
                 b. Korpuskel Meissner dan diskus merkel mendeteksi sentuhan.
                 c. korpuskel ruffini responsif terhadap tegangan disekitar jaringan ikat dan memantau tekanan. Korpuskel ini ditemukan terutama pada permukaan pelantar kaki.
                 d. Ujung bulbus Krause tipis berkapsul dan dipercaya berkontribusi terhadap tekanan sentuhan, kesadaran akan posisi dan kesadaran akan gerakan.
                 e. Spindel Neuromuskular memantau tonus otot (regangan dan tegangan) dalam otot dan organ tendonn golgi memantau tegangan.

II. Telinga
     A. Struktur telinga
                        Bagian-bagian Telinga
bagian-bagian telinga
Telinga terdiri dari 3 bagian utama yaitu telinga luar (I), telinga tengah (II) dan telinga dalam (III).
1. Telinga luar ada dua bagian yaitu:
·         daun telinga (1) dan
·         saluran pendengaran/lubang telinga(2).
2. Telinga tengah terdiri dari:
·         gendang telinga atau membrana tympani adalah selaput atau membran tipis yang memisahkan telinga luar dan telinga dalam (3),
·         Osikula (4) yang terdiri dari 3 tulang kecil yaitu tulang martil, tulang landasan (paron), dan tulang sanggurdi.
·         Rongga telinga tengah yang berisi udara (5) dan
·         saluran eustasius (6). Saluran tersebut tersambung dengan tenggorokan dan berfungsi untuk menjaga agar tekanan udara di luar dan di dalam telinga seimbang.
3. Telinga dalam terdiri dari:
·         jendela oval (7),
·         organ-organ keseimbangan (8),
·         koklea yang berbentuk spiral dan berisi cairan(9),
·         jendela bulat (10),
·         saraf auditori (Pendengaran) yang berfungsi untuk menyampaikan informasi ke otak (11).

Skema Bagian Telinga
http://118.98.214.163/edunet/PRODUKSI%202009/PENGETAHUAN%20POPULER/KESEHATAN/Pentingnya%20menjaga%20kesehatan%20telinga/images/hal06.jpg
     B. Fungsi
Setiap bagian dari telinga mempunyai fungsinya masing-masing.
1. Telinga bagian luar dan tengah berperan penting dalam pengumpulan dan penerimaan suara. Sedangkan telinga bagian dalam memiliki mekanisme agar tubuh tetap seimbang dan bertanggung jawab untuk mengubah gelombang suara menjadi gelombang listrik.
2. Daun telinga berfungsi untuk membantu mengarahkan suara ke dalam liang telinga. Saluran pendengaran berfungsi untuk menangkap suara. Saluran ini merupakan hasil dari susunan tulang rawan yang dilapisi kulit tipis. Di dalam saluran telinga terdapat banyak kelenjar yang menghasilkan zat yang disebut serumen atau kotoran telinga. Sebagian orang tidak mengira bahwa zat yang dianggap remeh dan dinyatakan sebagai kotoran, ternyata mempunyai tugas cukup penting di dalam telinga. Serumen berfungsi untuk menangkap debu dan mikroorganisme, serta mencegahnya masuk ke struktur telinga yang lebih dalam. Tiap individu tidak selalu memiliki jenis serumen yang sama. Ada yang kering dan keras, lembek, atau setengah lembek. Kuantitasnya pun tak sama. Ada yang sangat banyak hingga menutup liang telinga, mengisi sebagian liang telinga, bahkan ada yang sama sekali nyaris tidak memiliki kotoran telinga.
http://118.98.214.163/edunet/PRODUKSI%202009/PENGETAHUAN%20POPULER/KESEHATAN/Pentingnya%20menjaga%20kesehatan%20telinga/images/hal08.jpg
3. Gendang telinga (B) berfungsi untuk menghantarkan getaran suara dari udara menuju tulang pendengaran di dalam telinga tengah. Osikula (C1, C2, dan C3) berfungsi untuk menjembatani getaran dari gendang telinga , memperkeras suara dan menyampaikannya ke telinga dalam.
4. Tuba Eustachius berfungsi untuk mengalirkan kelebihan cairan yang secara normal dibuat di dalam telinga tengah. Selain itu, tuba juga berfungsi memelihara tekanan udara yang sama antara telinga tengah dan telinga luar sehingga gendang telinga bergerak dengan bebas dan fungsi pendengaran menjadi efektif. Jendela oval atau fenestra ovalis atau fenestra vestibuli adalah bukaan berselaput yang berfungsi untuk menghubungkan telinga tengah dengan telinga dalam. Rumah siput (koklea) berfungsi untuk mengubah getaran gerak menjadi denyut syaraf yang bergerak menuju otak melalui syaraf rongga telinga (saraf auditori).

C. Gangguan Pada Telinga
                        1. Radang Telinga

Radang telinga dapat terjadi di bagian luar maupun tengah. Radang telinga bagian luar terjadi karena bakteri. jamur. atau virus yang masuk melalui berbagai cara. misalnya masuk bersama air ketika berenang. Radang telinga tengah (otitis media) dapat terjadi karena bakteri atau virus. misalnya virus influenze. yang masuk dari rongga mulut melirlui saluran Eustachius.

2.Otosklerosis

Penyakit ini merupakan tuli konduksr yang menahun karena tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat bergerak secara leluasa. Penyakit ini harus ditangani oleh dokter THT.



3. Penyumbatan

Kotoran telinga (serumen) bisa menyumbat saluran telinga dan menyebabkan gatal-gatal, nyeri serta tuli yang bersifat sementara.Dokter akan membuang serumen dengan cara menyemburnya secara perlahan dengan menggunakan air hangat (irigasi). Tetapi jika dari telinga keluar nanah, terjadi perforasi gendang telinga atau terdapat infeksi telinga yang berulang, maka tidak dilakukan irigasi.Jika terdapat perforasi gendang telinga, air bisa masuk ke telinga tengah dan kemungkinan akan memperburuk infeksi. Pada keadaan ini, serumen dibuang dengan menggunakan alat yang tumpul atau dengan alat penghisap. Biasanya tidak digunakan pelarut serumen karena bisa menimbulkan iritasi atau reaksi alergi pada kulit saluran telinga, dan tidak mampu melarutkan serumen secara adekuat
c.1 Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna atau aurikel) dan saluran telinga (meatus auditorius eksternus).
Kelainan pada telinga luar meliputi:
-penyumbatan
-infeksi
-cedera
-tumor.

Anatomi telinga luar

1. PENYUMBATAN
Kotoran telinga (serumen) bisa menyumbat saluran telinga dan menyebabkan gatal-gatal, nyeri serta tuli yang bersifat sementara.
Dokter akan membuang serumen dengan cara menyemburnya secara perlahan dengan menggunakan air hangat (irigasi). Tetapi jika dari telinga keluar nanah, terjadi perforasi gendang telinga atau terdapat infeksi telinga yang berulang, maka tidak dilakukan irigasi.
Jika terdapat perforasi gendang telinga, air bisa masuk ke telinga tengah dan kemungkinan akan memperburuk infeksi. Pada keadaan ini, serumen dibuang dengan menggunakan alat yang tumpul atau dengan alat penghisap.
Biasanya tidak digunakan pelarut serumen karena bisa menimbulkan iritasi atau reaksi alergi pada kulit saluran telinga, dan tidak mampu melarutkan serumen secara adekuat.
Anak-anak sering memasukkan benda-benda kecil ke dalam saluran telinganya, terutama manik-manik, penghapus karet atau kacang-kacangan.
Biasanya benda-benda tersebut oleh dokter dikeluarkan dengan bantuan kait yang tumpul.
Benda-benda yang masuk terlalu dalam lebih sulit dikeluarkan karena memiliki resiko menimbulkan cedera pada gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran di telinga tengah. Kadang manik-manik dari kaca atau logam dikeluarkan dengan cara irigasi.
Jika anak meronta-ronta atau pengeluaran benda sulit dilakukan, bisa dilakukan pembiusan umum.
2. OTITIS EKSTERNA
Otitis eksterna adalah suatu infeksi pada saluran telinga.
Infeksi ini bisa menyerang seluruh saluran (otitis eksterna generalisata) atau hanya pada daerah tertentu sebagai bisul (furunkel).
Otitis eksterna seringkali disebut sebagai telinga perenang (swimmer’s ear).
Sejumlah bakteri atau jamur (lebih jarang) bisa menyebabkan otitis eksterna generalisata; bakteri stafilokokus biasanya menyebabkan bisul.
Orang-orang tertentu (penderita alergi, psoriasis), eksim atau dermatitis pada kulit kepala) sangat peka terhadap otitis eksterna.
Cedera pada saluran telinga ketika sedang membersihkannya atau masuknya air/bahan iritan (misalnya hari spray atau cat rambut) bisa menyebabkan otits eksterna.
Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga.
Membersihkan saluran telinga dengan cotton bud (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana.
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembut pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur.
Gejala-gejala dari otitis eksterna generalisata adalah gatal-gatal, nyeri dan keluarnya cairan berbau busuk. Jika saluran telinga membengkak atau terisi oleh nanah dan sel-sel kulit yang mati, maka bisa terjadi gangguan pendengaran .
Biasanya jika daun telinga ditarik atau kulit didepan saluran telinga ditekan, akan timbul nyeri.
Dengan menggunakan otoskop, kulit pada saluran telinga tampak merah, membengkak dan penuh dengan nanah dan sel-sel kulit yang mati.
Bisul menyebabkan nyeri yang hebat Jika bisul ini pecah, akan keluar darah dan nanah dari telinga.
Untuk mengobati otitis eksterna generalisata, pertama-tama dilakukan pembuangan sel-sel kulit mati yang terinfeksi dari saluran telinga dengan alat penghisap atau kapas kering. Setelah saluran telinga diersihkan, fungsi pendengaran biasanya kembali normal.
Biasanya diberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik selama bebarapa hari. Beberapa tetes teling ada yang mengandung kortikosteroid untuk mengurangi pembengkakan.
Kadang diberikan obat tetes telinga yang mengandung asam asetat untuk mengembalikan keasaman pada saluran telinga.
Untuk mengurangi nyeri pada 24-48 jam pertama bisa diberikan acetaminophenhttp://i.ixnp.com/images/v6.59/t.gif atau codein.
Infeksi yang sudah menyebar keluar saluran telinga (selulitis) diobati dengan antibiotik per-oral (melalui mulut).
Bisul dibiarkan pecah dengan sendirinya karena jika sengaja disayat bisa menyebabkan penyebaran infeksi.
Obat tetes telinga yang mengandung antibiotik tidak efektif.
Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan bisa dilakukan pengompresan hangat (sebentar saja) dan pemberian obat pereda nyeri.
3. PERIKONDRITIS
Perikondritis adalah suatu infeksi pada tulang rawan (kartilago) telinga luar. Perikondritis bisa terjadi akibat:
-cedera
-gigitan serangga
- pemecahan bisul dengan sengaja.
Nanah akan terkumpul diantara kartilago dan lapisan jaringan ikat di sekitarnya (perikondrium).
Kadang nanah menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago, menyebabkan kerusakan pada kartilago dan pada akhirnya menyebabkan kelainan bentuk telinga.Meskipun bersifat merusak dan menahun, tetapi perikondritis cenderung hanya menyebabkan gejala-gejala yang ringan.
Untuk membuang nanahnya, dibuat sayatan sehingga darah bisa kembali mengalir ke kartilago. Untuk infeksi yang lebih ringan diberikan antibiotik per-oral, sedangkan untuk infeksi yang lebih berat diberikan dalam bentuk suntikan.
Pemilihan antibiotik berdasarkan beratnya infeksi dan bakteri penyebabnya.
4. EKSIM
Eksim pada telinga merupakan suatu peradangan kulit pada telinga luar dan saluran telinga, yang ditandai dengan gatal-gatal, kemerahan, pengelupasan kulit, kulit yang pecah-pecah serta keluarnya cairan dari telinga.
Keadaan ini bisa menyebabkan infeksi pada telinga luar dan saluran telinga.
Dioleskan larutan yang mengandung alumunium asetat (larutan Burow).
Untuk mengatasi gatal-gatal dan peradangan bisa diberikan krim atau salep corticosteroid.
Jika daerah yang terkena mengalami infeksi, bisa diberikan salep atau obat tetes antibiotik.
5. CEDERA
Cedera pada telinga luar (misalnya pukulan tumpul) bisa menyebabkan memar diantara kartilago dan perikondrium. Jika terjadi penimbunan darah di daerah tersebut, maka akan terjadi perubahan bentuk telinga luar dan tampak massa berwarna ungu kemerahan.
Darah yang tertimbun ini (hematoma) bisa menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago sehingga terjadi perubahan bentuk telinga.
Kelainan bentuk ini disebut telinga bunga kol, yang sering ditemukan pada pegulat dan petinju.
Untuk membuang hematoma, biasanya digunakan alat penghisap dan penghisapan dilakukan sampai hematoma betul-betul sudah tidak ada lagi (biasanya selama 3-7 hari).Dengan pengobatan, kulit dan perikondrium akan kembali ke posisi normal sehingga darah bisa kembali mencapai kartilago.
Jika terjadi robekan pada telinga, maka dilakukan penjahitan dan pembidaian pada kartilagonya.
Pukulan yang kuat pada rahang bisa menyebabkan patah tulang di sekitar saluran telinga dan merubah bentuk saluran telinga dan seringkali terjadi penyempitan.
Perbaikan bentuk bisa dilakukan melalui pembedahan.
6. TUMOR
Tumor pada telinga bisa bersifat jinak atau ganas (kanker).
Tumor yang jinak bisa tumbuh di saluran telinga, menyebabkan penyumbatan dan penimbunan kotoran telinga serta ketulian.
Contoh dari tumor jinak pada saluran telinga adalah:
·         Kista sebasea (kantong kecil yang terisi sekresi dari kulit)
·         Osteoma (tumor tulang)
·         Keloid (pertumbuhan dari jaringan ikat yang berlebihan setelah terjadinya cedera).
Seruminoma (kanker pada sel-sel yang menghasilkan serumen) bisa tumbuh pada sepertia saluran telinga luar dan bisa menyebar.
Untuk mengatasinya dilakukan pembedahan untuk mengangkat kanker dan jaringan di sekitarnya.
Kanker sel basal dan kanker sel skuamosa seringkali tumbuh di pada telinga luar setelah pemaparan sinar matahari yang lama dan berulang-ulang.
Pada stadium dini, bisa diatasi dengan pengangkatan kanker atau terapi penyinaran.
Pada stadium lanjut, mungkin perlu dilakukan pengangkatan daerah telinga luar yang lebih luas.
Jika kanker telah menyusup ke kartilago, dilakukan pembedahan.
Kanker sel basal dan sel skuamosa juga bisa tumbuh di dalam atau menyebar ke saluran telinga. Keadaan ini diatasi dengan pembedahan untuk mengangkat kanker dan jaringan di sekitarnya yang diikuti dengan terapi penyinaran.



                         

           










BAB 3
PEMBAHASAN

Telinga manusia sangat sensitif dan gangguan sekecil apapun pada setiap bagian dari struktur telinga dapat menyebabkan masalah. Kerusakan tersebut disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan suara keras atau suara tiba-tiba.
Suara dapat berbahaya bagi tubuh manusia dalam dua cara. Pertama, suara keras berpotensi menyebabkan kerusakan fisik pada telinga, yang dapat mengakibatkan masalah pendengaran. Sedangkan yang kedua, suara berisik berkepanjangan dapat menyebabkan tekanan emosional dan stres.
Kerusakan pada telinga dapat bersifat permanen atau sementara, dan kasus berulang dari gangguan sementara dapat menyebabkan kerusakan permanen.
Kerusakan pada telinga tidak selalu berarti gangguan pendengaran, telinga berdenging atau kepekaan fisik dan psikologis terhadap beberapa suara juga diklasifikasikan sebagai kerusakan telinga.


Berikut kerusakan pada telinga yang paling umum terjadi:

1.Tinnitus
Merupakan kondisi dimana telinga terus menerus berdenging akibat kebisingan yang sangat keras seperti suara musik di klub malam. Kondisi ini biasanya dapat berlangsung beberapa jam dan kembali ke pendengaran normal, tetapi juga dapat menjadi kondisi yang berlangsung lama.
2.Kehilangan pendengaran
Kondisi ini merupakan perasaan sedikit tuli yang bersifat sementara akibat suara yang begitu keras. Pendengaran akan pulih dari trauma ini selama beberapa waktu dan jika kondisi ini terus berulang akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah.

3.Tuli permanen
Kondisi ini dapat terjadi secara bertahap dan disebabkan oleh paparan kebisingan yang terus-menerus.



Faktor-Faktor Yang Bisa Merusak Dan Membuat Telinga Budek :
Telinga merupakan indera yang penting bagi tubuh dan kelangsungan hidup. Namun, secara tidak sadar orang melakukan kegiatan yang dapat membahayakan indera pendengarannya. Apa saja faktor yang bisa bikin orang budek?
1. Ear bud atau ear phone pada pemutar musik (music player)
Ear bud membuat suara menjadi lebih keras, sehingga untuk waktu lama dapat memekakkan telinga. Selain itu, ear bud juga membuat perubahan dalam sistem pendengaran. Bila orang terbiasa mendengarkan suara dari ear bud yang dekat dan keras, maka besar kemungkinan ia sulit mendengarkan suara pada level normal atau lembut.


2. Mobil terbuka (openkap)
Mengendarai mobil openkap membuat orang harus mendengar suara dengan level 88-90 Decibel (Db). Sebagai perbandingan, percakapan normal berada kisaran 50 Db, jalan lalu lintas sekitar 70 Db, mesin pemotong rumput sekitar 90 Db. Paparan berulang dari suara di atas 85 Db diketahui dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen.

3. Obat-obatan
Salah satu efek samping yang kurang dikenal dari beberapa jenis obat, seperti obat nyeri, antibiotik tertentu dan obat kemoterapi berbasis platinum, adalah gangguan pendengaran.

4.Rokok
Satu pembuluh darah melayani koklea, yaitu organ telinga bagian dalam. Nikotin, vasokonstriktor yang menyebabkan pembuluh darah sedikit menyusut, dapat memiliki dampak yang luar biasa pada kapiler kecil yang melayani telinga.

5.Pekerjaan
Bidang pekerjaan seperti musisi, buruh pabrik, pekerja konstruksi dan pemadam kebakaran adalah beberapa orang yang berisiko tinggi untuk terpapar konstan terhadap suara keras.

6.Diabetes
Diabetes dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke telinga. Pembuluh darah sempit atau abnormal akibat diabetes dapat mencegah darah mencapai koklea, juga dapat mencegah proses pembersihan racun. Ini memiliki potensi untuk merusak sel-sel lembut di dalam telinga.
7.Anemia sickle cell
Orang dengan anemia sickle cell sering mengalami kelelahan dan sakit karena sel-sel darah merahnya cacat yang berbentuk sabit tidak bulat. Padahal aliran darah normal penting untuk mencapai telinga.
Dampak Penggunaan Headset
Telah diketahui sejak lama bahwa suara yang keras dalam jangka waktu panjang akan merusak pendengaran. Kadangkala suara itu sangat merusak sehingga menyebabkan ketulian. Suara bising di tempat kerja merupakan penyebab paling umum yang bisa merusak daya dengar. Para remaja telah diberitahu mengenai bahaya ini karena mereka suka sekali mendengarkan musik yang sedang hits dalam volume tinggi.
Remaja dan kaum muda juga senang mendengarkan lagu sambil memakai headset. Jika suara dari headset terlalu keras, mereka tidak menyadari dampak penggunaan headset terhadap telinga mereka. Dengan sering memakai headset tanpa disadari mereka sedang merusak pendengaran mereka sendiri. Mendengarkan MP3 atau playlist lagu dengan suara keras dan langsung dihembuskan ke dalam telinga sangatlah berbahaya.
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa penggunaan headset dan memainkan music dengan suara keras setiap hari selama lima tahun bisa menyebabkan kerusakan permanen dan masalah gangguan telinga yang tidak dapat disembuhkan. Lima tahun rasanya lama sekali, tetapi mendengarkan music melalui headset dalam jangka waktu panjang setiap hari akan menimbulkan efek yang sama dalam waktu yang lebih singkat.
Seberapa keras yang disebut terlalu keras dan menimbulkan dampak penggunaan headset terhadap telinga itu? Sekarang ini, batas maksimum suara untuk pendengaran manusia adalah 100 desibel, tetapi mendengarkan music di angka 80 desibel secara kontinyu juga sangat berbahaya.
Gambarannya seperti ini, orang yang mendengarkan music melalui headset dengan volume tertinggi selama 5 jam mendapat dosis suara yang lebih dari yang diijinkan oleh aturan keselamatan dan kesehatan bagi para pekerja bangunan. Mendengarkan music secara langsung di telinga dengan tingkat suara 100 desibel sama bahayanya dengan berdiri 3 meter di dekat mesin pengeboran yang bersuara keras.
Jenis headset seperti apa yang berbahaya? Jika suara yang didengar cukup keras maka semua jenis headset memiliki kapasitas merusak pendengaran kita. Jenis headset yang berbentuk bulat kecil dan digunakan hanya dengan cara dimasukkan ke dalam telinga lebih berbahaya dibandingkan headset yang menutupi telinga secara keseluruhan. Itulah beberapa dampak penggunaan headset terhadap telinga Anda.
Penggunaan Headset Saat Tidur
Kebiasaan tidur sambil mendengarkan musik, atau menonton televisi sampai tertidur, atau membiarkan lampu di ruangan menyala terang, memang sulit dihilangkan dan menurut sebagian orang kondisi seperti itu membuat mereka menjadi lebih cepat tertidur. Ya, memang benar, dengan banyaknya alat elektronik yang menyala akan membuat kita cepat lelah dan mengantuk.  Tetapi pada kenyataannya setelah terbangun mereka merasa lebih tegang (stress) dan capek. Bahkan ada yang merasa seperti tidak tidur semalaman pedahal sudah tidur lama. Ironis sekali, seharusnya ketika bangun tidur badan akan terasa segar tetapi malah sebaliknya.
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Pada saat kita tidur sebetulnya otak tidak pernah tidur. Otak selalu menjalankan aktivitasnya walaupun tidak sesibuk seperti di saat bangun, yaitu menjalankan sistem metabolisme tubuh. Pada malam hari, seiring menurunnya aktivitas tubuh, ritme gelombang otak pun mengalami penurunan. Namun apabila kita tidur sambil mendengarkan musik, televisi dalam keadaan hidup atau lampu ruangan sedang menyala terang, maka gelombang suara atau cahaya yang dipancarkan oleh peralatan tersebut tetap diterima oleh indera pendengaran dan penglihatan kita. Gelombang suara diterima oleh alat pendengaran di dalam telinga dan gelombang cahaya tetap dapat menembus kelopak mata dan diterima oleh retina dan lensa mata. Gelombang-gelombang tersebut akan diteruskan ke otak kita. Otak yang harusnya beristirahat akan kembali terangsang untuk bekerja dan mengolah informasi yang masuk. Apabila hal ini berlangsung sepanjang malam, berarti kita hanya tidur menurut tubuh luar, tetapi tidak menurut otak. Otak akan terus bekerja mengolah informasi yang masuk tersebut.

Jadi, mulailah kebiasaan berhemat. Ketika hendak tidur, matikan semua alat elektronik yang bisa melelahkan otak. Selain mendapat kesegaran dan tidur yang berkualitas.


Berikut hal yang perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan telinga dan stres karena kebisingan seperti dilansir besthealthmag
1. Tidak mendengarkan suara yang terlalu keras hingga di atas 100 desibel tanpa pelindung telinga selama lebih dari 15 menit.
2. Hindari paparan suara yang terlalu keras hingga lebih dari 110 desibel. Paparan rutin yang berlangsung lebih lama dari 1 menit dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen meskipun baru sekali terpapar suara sekeras itu.
3. Gunakan pelindung telinga ketika menggunakan mesin-mesin yang mengeluarkan suara berisik seperti pemotong rumput. Suara dengan tingkat kebisingan lebih dari 85-90 desibel juga berpotensi merusak telinga.
4. Menjaga volume TV, radio dan handphone pada tingkat yang wajar.

5. Minimalkan penggunaan peralatan rumah tangga yang berisik dan pastikan mengenakan telinga ketika harus menggunakannya.




BAB 4
KESIMPULAN

Penggunaan earphone dapat menurunkan fungsi pendengaran, ditandai dengan peningkatan ambang dengar pada frekuensi rendah,yang bersifat sementara dan mengalami perbaikan setelah pengganaafi earphone dikurangi atau dihentikan. Gangguan pendengaran ditandai dengan adarrya peningkatan arnbang dengar di atas 20 dB, atau peningkatan anrbang dengar yang nyata meskipun kurang dari 20 dB.1:,8'rr Pemeriksaan audiometer awal mennnjulftan kelompokpengguna earphone menilfrJ ambang dengar lebih dari 20 dB pada frekuensi 0,5 kJIz, I,5 kJIz, dan2kJlz. sedangkan ambang dengar kelompok kontrol
adalahnormal (<20d8). sebanyak 94,3o% remaja menggunakan pemutar musik pribadi. Pemutar musik yang terbanyak digunakan adalah jenis MP3 . He adphone yang paling sering
adalah earphone yang digunakan 1-3 jam/hari selama 1-3 tahun. Ditemukan peningkatan ambang dengar yang nyata pada sebagian besar pengguna earphone.t2 Yogel et alt3 melalarkan pen ehttantefiangkebiasaan remaja menggunakan earphone untuk mendengarkan MP3. Sebanyak 48%o mendengarkan musik dengan volume keras H syo), dan hanya
6,8o/oyangmenggunakan pengatur bising (noi se limiter). Musik yang didengar melalui earphone dalam telinga memihki intensitas bising lebih besar daripada intensitas bising
musik yang didengar tanpa menggunakan earphone dengan volume yang sama karena jarak sumber suara lebih dekat.Selain itu, earphone dalam telinga tidak dapat sepenuhnya
mencegah masuknya suara-suara bising dari lingkungan sekitar, sehingga penggunanya mempunyai kecenderungan untuk mendengarkan musik dengan volume yang cukup besar.

Awalnya telinga yang sering menggunakan earphone tidak terasa apa-apa tetapi ketika hendak mencabut earphone, telinga terasa panas dan berdengung hebat. Itu terjadi akibat kelelahan koklea (rumah siput), yang berperan penting dalam proses pendengaran. yaitu menangkap dan meneruskan gelombang suara ke otak. Kelelahan koklea yang terjadi terus-menerus dan tak segera di tangani dapat menyebabkan gangguan pendengaran menetap. Efek buruk datang jika menggunakan earphone selama lima jam dalam seminggu. Dampaknya adalah kerusakan permanen pada telinga, yang kemungkinan terbesar hal itu terjadi pada usia muda.

"Mendengarkan pemutar musik personal secara reguler dalam volume tinggi ketika muda sering kali tidak berdampak pada pendengaran. Namun, kelak kemampuan mendengar bisa menghilang."
Jelas salah, seorang peneliti pada International Herald Tribune. Pernyataan itu juga di berikan oleh sembilan peneliti dari Committee on Emerging and Newly Identified Helat Risks. Bahkan, mereka juga menyatakan bahwa resiko kehilangan pendengaran akan di dapatkan di pertengahan usia 20-an.

Selain itu, jangan menggunakan headset saat mengemudi atau di jalan raya yang berisik. Ini akan membuat pengguna tidak mendengar suara peringatan orang/mobil lain. Yang kemungkinan besar menyebabkan kecelakaan. Self-awareness atau kesadaran menurun karena pengalihan konsentrasi kita dari lingkungan sekitar dan jalan ke suara dari earphone.

Beberapa saran untuk mengurangi efek samping misalnya menggunakan handphone yang besar (tipe yang lama). Sehingga suara lebih terdistribusi dan lebih menutup suara bising dari luar dibandingkan earphone yang kecil. Type earbuds yang kecil mempunyai speaker kecil dengan volume besar yang di letakkan di lubang telinga sudah pasti memberikan efek lebih besar pada pendengaran dibandingkan dengan handphone yang hanya di tempel pada telinga luar.



































DAFTAR PUSTAKA

1.         Healt.detik
2.         Julia Rahadian, Nawanto Agung Prastowo, Rika Haryono . Pengaruh Penggunaan Earphone terhadap Fungsi Pendengaran Remaja”. Departerrcen Fisiologi, Fakultas Kedokteran Uniba A*n<t Jaya, Jakarta.
3.         Sloane Ethel . “anatomi fisiologi manusia untuk pemula” . EGC .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar