Jumat, 14 Desember 2012

B.i.o.l.o.g.i s.e.l ~ transpor antar sel



TUGAS TERSTRUKTUR Biologi Sel
Transpor antar sel

Universitas Pancasila Logo.jpg

Kelompok 3
1.   Anggra Imania
2.   Anrelita Rachmadhiscka O
3.   Arlita Kurnia
4.   Augustini
5.   Averina Hillary






2012 - 2013
Fakultas Farmasi Universitas Pancasila
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
            Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami (kelompok 3) dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul “Transport antar sel” sebagai tugas dari mata kuliah Biologi Sel.
            Pada kesempatan ini kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Dra. Erlindha Gangga A, M.Si., Apt selaku dosen pengampu mata kuliah Biologi Sel yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan; rekan-rekan, serta semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya.
            Demi penyempurnaan penulisan makalah selanjutnya, kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Wassalammu’alaikum Wr.Wb
                                                                                                Jakarta, 14 Desember 2012

                                                                       
                                                                                                            Kelompok 3







BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Sel merupakan penyusun jaringan tumbuhan dan hewan. Segala aktivitas terjadi dalam sel, sehingga fungsi jaringan pun dapat dilakukan dengan baik. Tentunya di sini ada hubungan antara sel satu dengan yang lain, terutama dalam hal transpor zat-zat untuk proses metabolisme tumbuhan. Zat-zat tersebut keluar masuk sel dengan melewati membran sel.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penyusunan makalah ini adalah :
1.    Pengertian membran plasma beserta fungsinya
2.    Transpor lintas membran

1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.    Mengetahui dan mempelajari komponen-komponen dari membran sel dan fungsi dari membran sel.
2.    Mengetahui macam-macam transpor antar membran, contoh, dan faktor yang mempengaruhinya.

1.4  Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :
1.    Agar mahasiswa dapat menjelaskan komponen-komponen dari membran sel dan fungsi membran sel.
2.    Agar mahasiswa dapat mengetahui macam-macam transpor antar membran serta contoh dan faktor yang mempengaruhinya.








BAB 2
ISI

2.1 Struktur membran plasma dan fungsinya
Membran sel (bahasa Inggris: cell membrane, plasma membrane, plasmalemma) adalah fitur universal yang dimiliki oleh semua jenis sel berupa lapisan antarmuka yang disebut membran plasma, yang memisahkan sel dengan lingkungan di luar sel terutama untuk melindungi inti sel dan sistem kelangsungan hidup yang bekerja di dalam sitoplasma.
Fungsi membran plasma antara lain :
1.    Sebagai pembatas antara lingkungan internal sel dengan lingkungan eksternalnya.
2.    Meregulasi aliran material / substansi masuk keluar sel (Menjaga lingkungan agar aktivitas sel dapat berjalan dengan normal (homeostasis).
3.    Komunikasi antara sel satu dengan sel lainnya, dan sel dengan lingkungan eksternalnya.
4.    Melindungi sel dari lingkungan luar.

2.1.1 Membran seluler adalah mosaik fluid yang tersusun atas lipid dan protein
Lipid dan protein merupakan bahan pokok dari suatu membran, meskipun karbohidrat juga penting. Lipid yang paling melimpah di membrane merupakan fosfolipid. Kemampuan fosfolipid untuk membentuk membran yang melekat dalam struktur molekul tersebut. Fosfolipid adalah molekul amphipathic, yang berarti ia memiliki kedua daerah hidrofilik dan daerah hidrofobik (lihat Gambar 2.1). Jenis lain dari lipid membran juga amphipathic. Selain itu, sebagian besar protein dalam membran memiliki kedua daerah hidrofobik dan hidrofilik.
Bagaimana fosfolipid dan protein diatur dalam membran sel? Dalam model mozaik fluid, membran adalah struktur cairan dengan "mozaik" dari berbagai protein tertanam dalam atau melekat pada lapisan ganda (bilayer) fosfolipid.
Para ilmuwan mengusulkan model sebagai hipotesis, cara mengatur dan menjelaskan informasi yang ada. Mari kita menjelajahi bagaimana model mosaik cair dikembangkan.
2.1.2 Model Membran
Para ilmuwan mulai membangun model molekul sebelum membran pertama kali terlihat dengan mikroskop elektron (pada 1950-an). Pada tahun 1915, membran yang diisolasi dari mikroskop (pada 1950-an). Pada tahun 1915, membran yang diisolasi dari sel darah merah kimiawi yang dianalisis dan ditemukan terdiri dari lipid dan protein. Sepuluh tahun kemudian, dua ilmuwan Belanda beralasan bahwa membran sel harus bilayers fosfolipid. Seperti lapisan ganda molekul dapat ditemukan sebagai batas stabil antara dua kompartemen zat cair karena penampungan pengaturan molekul ekor hidrofobik dari fosfolipid dari air sementara mengekspos kepala hidrofilik terhadap air (Gambar 2.2)

Gambar 2.1 Struktur Fosfolipid
Jika kita mengasumsikan bahwa bilayer fosfolipid merupakan penyusun utama membran, dimanakan kita menempatkan proteinnya? Walaupun kepala fosfolipid bersifat hidrofilik, permukaan suatu membran buatan yang terdiri atas bilayer fosfolipid menempel kurang kuat pada air daripada penempelan membran biologis sebenarnya. Perbedaan ini dapat diperjelas jika membran tersebut dilapisi pada kedua sisinya dengan protein hidrofilik. Pada tahun 1935, Hugh Davson dan James Danieli mengusulkan suatu model sandwich: bilayer fosfolipid di antara dua lapisan protein globular.
Gambar 2.2 Fosfolipid bilayer
Ketika peneliti pertama kali digunakan mikroskop elektron untuk mempelajari sel-sel pada 1950-an, gambar tampaknya mendukung model Davson-Danielli. Pada akhir 1960-an, bagaimanapun, ahli biologi sel banyak diakui dua masalah dengan model. Pertama, pemeriksaan berbagai membran mengungkapkan bahwa membran dengan fungsi yang berbedadalam struktur dan komposisi kimia. Masalah kedua yang lebih serius menjadi jelas sekali protein membran yang mudah dikarakteristik .Tidak seperti protein terlarut dalam sitosol, protein membran tidak terlalu larut dalam air karena mereka amphipathic. Jika protein tersebut yang  berlapis pada permukaan membran, bagian hidrofobik akan berada dalam lingkungan berair.
Dengan pengamatan ini, SJ Singer dan G. Nicolson mengusulkan pada tahun 1972 bahwa protein membran berada dalam bilayer fosfolipid dengan daerah hidrofilik yang menonjol (Gambar 2.3). Ini pengaturan molekul akan memaksimalkan kontak daerah hidrofilik dari protein dan fosfolipid dengan air dalam cairan sitosol dan ekstraseluler, sambil memberikan bagian hidrofobik mereka dengan lingkungan yang berair. Dalam model mozaik fluid, membran merupakan mosaik molekul protein terombang-ambing di bilayer cairan fosfolipid.
Gambar 2.3 model mozaik fluid
2.1.3 Fluiditas Membran
Membran adalah struktur cair (fluid) yang terdiri dari molekul lipid dan protein dapat bergerak bebas secara lateral pada masing-masing lapisan dan fosfolipid dapat bergerak secara transversal dari satu lapisan ke lapisan lainnya (flip-flop).
Faktor yang mempengaruhi fluiditas membran antara lain :
·         Suhu dan komposisi lipid
·         Pada suhu rendah, membran menjadi kurang cair dan fosfolipid dikemas menjadi lebih berdekatan.
·         Membran yang kaya akan asam lemak tidak jenuh lebih cair daripada membran yang kaya akan sama lemak jenuh karena “kink” pada bagian ekor dari asam lemak tidak jenuh mencegah pengemasan yang rapat.


·         Jumlah kolesterol yang ada
·         Pada suhu normal /  hangat, kolesterol menyebabkan fluiditas membran menjadi kurang dengan cara membatasi pergerakan dari fosfolipid.
·         Pada suhu rendah, kolesterol meningkatkan fluiditas membran dengan cara menghalangi pergerakan fosfolipid yang padat.
            Fungsi Fluiditas membran adalah:
1.    Terjadi interaksi di dalam membran plasma
2.    Pergerakan komponen membran yang bertanggung jawab terhadap proses seluler seperti pergerakan, pertumbuhan, pembelahan, dan sekresi sel, dan pembentukan persimpangan sel.
3.    Menyebabkan lipid bilayer mampu untuk melakukan “self-seal” jika sobek atau ditusuk.



2.1.4 Sifat dan permeabilitas membran
Sifat dari membran plasma terbagi menjadi tiga yaitu, impermeable membrane, freely permeable membrane, dan selective (slightly) permeable membrane. Impermeable membrane merupakan membrane yang tidak dapat dilewati oleh apapun. Freely permeable membrane merupakan membran yang dapat dilewati oleh substansi secara bebas (Misalnya : molekul nonpolar (hidrofobik) yang tidak bermuatan seperti oksigen, karbondioksida, dan steroid). Sedanngkan Selectively permeable membrane merupakan membran yang dapat dilewati oleh beberapa substansi / material tertentu (Misalnya : molekul kecil polar yang tidak bermuatan seperti air dan urea).

2.2 Transpor lintas membran
Salah satu fungsi dari membran sel adalah sebagai lalu lintas molekul dan ion secara dua arah. Molekul yang dapat melewati membran sel antara lain ialah molekul hidrofobik (CO2,O2), dan molekul polar yang sangat kecil (air, etanol). Sementara itu, molekul lainnya seperti molekul polar dengan ukuran besar (glukosa), ion, dan substansi hidrofilik membutuhkan mekanisme khusus agar dapat masuk ke dalam sel.
Protein Transpor
Membran sel besifat permeable terhadap ion dan molekul polar spesifik. Substansi hidrofilik menghindari kontak dengan bilayer lipid dengan lewat melalui protein transport yang membentangi (melintangi) membran. Sejumlah protein transpor berfungsi karena memiliki saluran hidrofilik yang digunakan oleh molekul tertentu sebagai saluran untuk melewati membran. Protein transpor lain yang mengikat senyawa yang dibawanya dan secara fisik menggerakkannya melintasi membran. Dalam kasus tersebut, setiap protein transpor besifat spesifik untuk substansi yang ditranslokasikannya, berarti hanya substansi atau kelas yang berkaitan erat dengan substansi itu saja yang dapat melintasi membran. Misalnya, glukosa yang diangkut dalam darah ke hati manusia memasuki sel hati secara cepat melalui protein transport spesifik dalam membran plasma. Protein ini begitu selektifnya sehingga protein itu bahkan menolak fruktosa, isomer struktural gula.
Dengan demikian permeabilitas selektif membran bergantung pada rintangan pembeda pada bilayer lipid maupun protein transpor spesifik yang ada di dalam membran.
Banyaknya molekul yang masuk dan keluar membran menyebabkan terciptanya lalu lintas membran. Lalu lintas membran digolongkan menjadi dua cara, yaitu dengan transpor pasif untuk molekul-molekul yang mampu melalui membran tanpa mekanisme khusus dan transpor aktif untuk molekul yang membutuhkan mekanisme khusus. Lalu lintas membran akan membuat perbedaan konsentrasi ion sebagai akibat dari dua proses yang berbeda yaitu difusi dan transpor aktif, yang dikenal sebagai gradien ion Lebih lanjut, gradien ion tersebut membuat sel memiliki tegangan listrik seluler. Dalam keadaan istirahat, sitoplasma sel memiliki tegangan antara 30 hingga 100 mV lebih rendah daripada interstitium.
a) Transpor pasif
            Dapat berlangsung karena adanya perbedaan konsentrasi larutan di antara kedua sisi membran. Pada transpor pasif tidak rnemerlukan energi rnetabolik. Transpor pasif dibedakan menjadi tiga, yaitu difusi sederhana (simple diffusion), difusi dipermudah atau difasilitasi (facilitated diffusion), dan osmosis.

1) Mekanisme difusi
Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),d ifusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion). 
Difusi sederhana melalui membrane berlangsung karena molekul -molekul yang berpindah atau bergerak melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus lipid bilayer pada membran secara langsung. Membran sel permeabel terhadap molekul larut lemak seperti hormon steroid, vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan organik yang larut dalam lemak, Selain itu, membran sel juga sangat permeabel terhadap molekul anorganik seperti O2, CO2, HO, dan H2O. Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam serta ion-ion tertentu, dapat menembus membran melalui saluran atau chanel. Saluran ini terbentuk dari protein transmembran, semacam pori dengan diameter tertentu yang memungkinkan molekul dengan diameter lebih kecil dari diameter pori tersebut dapat melaluinya. Sementara itu, molekul – molekul berukuran besar seperti asam amino, glukosa, dan beberapa garam – garam mineral , tidak dapat menembus membrane secara langsung, tetapi memerlukan protein pembawa atau transporter untuk dapat menembus membrane. 
Proses masuknya molekul besar yang melibatkan transforter dinamakan difusi difasilitasi.


2) Mekanisme Difusi dan Difasilitasi
Difusi difasiltasi (facilitated diffusion) adalah pelaluan zat melalui rnembran plasrna yang melibatkan protein pembawa atau protein transforter. Protein transporter tergolong protein transmembran yang memliki tempat perlekatan terhadap ion atau molekul vang akan ditransfer ke dalam sel. Setiap molekul atau ion memiliki protein transforter yang khusus, misalnya untuk pelaluan suatu molekul glukosa diperlukan protein transforter yang khusus untuk mentransfer glukosa ke dalam sel.  
Protein transporter untuk glukosa banyak ditemukan pada sel-sel rangka, otot jantung, sel-sel lemak dan sel-sel hati, karena sel – sel tersebut selalu membutuhkan glukosa untuk diubah menjadi energy.
Gambar 2.4 Difusi sederhana dan difusi terfasilitasi

3) Mekanisme osmosis
Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat pelarutya rendah melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi permeabel. Jika di dalam suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermiabel, jika dalam suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermiabel ditempatkan dua Iarutan glukosa yang terdiri atas air sebagai pelarut dan glukosa sebagai zat terlarut dengan konsentrasi yang berbeda dan dipisahkan oleh selaput selektif permeabel, maka air dari larutan yang berkonsentrasi rendah akan bergerak atau berpindah menuju larutan glukosa yang konsentrainya tinggi melalui selaput permeabel. jadi, pergerakan air berlangsung dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi menuju kelarutan yang konsentrasi airnya rendah melalui selaput selektif permiabel.

Gambar 2.5 Peristiwa Osmosis

            b) Transpor Aktif

Pada transport aktif diperlukan adanya protein pembawa atau pengemban dan memerlukan energi metabolik yang tersimpan dalam bentuk ATP. Selama transport aktif, molekul diangkut melalui gradient konsentrasi. Transport aktif dibedakan menjadi dua yaitu transport aktif primer dan transport aktif sekunder.
Transpor aktif primer secara langsung berkaitan dengan hidrolisis ATP yang akan menghasilkan energi untuk transpor ini. Contoh transport aktif primer ini adalah pompa ion Na+ dan K+.
              Ion K+ penting untuk mempertahankan kegiatan listrik di dalam sel saraf dan memacu transport aktif zat-zat lain. Meskipun ion Na+ dan K+ dapat melewati membran, karena kebutuhan ion K+ tinggi, maka diperlukan lagi pemasukan ion K+ ke dalam sel dan pengeluaran ion Na+ keluar sel. Konsentrasi ion K+ di luar sel rendah, dan di dalam sel tinggi. Sebaliknya, konsentasi ion Na+ di dalam sel rendah dan di luar sel tinggi. Jika terjadi proses osmosis, maka akan terjadi osmosis ion K+ dari dalam ke luar dan osmosis ion Na+ dari luar ke dalam sel. Akan tetapi yang terjadi bukanlah osmosis, karena pergerakan ion-ion itu melawan gradient kadar, yaitu terjadi pemasukan ion K+ dan pengeluaran ion Na+. Untuk melawan gradient kadar itu diperlukan energi ATP dengan pertolongan protein yang ada pada membrane. Setiap pengeluaran 3 ion Na+ dari dalam sel diimbangi dengan pemasukan 2 ion K+ dari luar sel. Karena itu disebut sebagai pompa natrium-kalium.
              Zat-zat yang dapat diangkut secara transport aktif misalnya gula, protein, enzim, dan hormon.
              Tranpor aktif sekunder merupakan transpor pengangkutan gabungan yaitu pengangkutan ion-ion bersama dengan pengangkutan molekul lain. Misalnya pengangkutan asam amino dan glukosa dari lumen usus halus menembus membran sel epitel usus selalu bersama dengan pengangkutan ion-ion Na+. Pada transpor aktif sekunder juga melibatkan protein pembawa dan membutuhkan energi dari hasil hidrolisis ATP.

            Transport in Vesicle
              Vesicles adalah kantong sferis yang kecil yang digunakan untuk mentranspor berbagai substansi dari satu struktur ke struktur lainnya di dalam sel.
              Terbagi menjadi dua yaitu : Endositosis dan Eksotsitosis. Endositosis adalah material bergerak ke dalam sel dalam bentuk vesikel yang dibentuk dari membran plasma. Sedangkan Eksositosis adalah material bergerak keluar sel dengan cara berfusi dengan membran plasma dari vesikel yang dibentuk di dalam sel. Kedua macam proses tersebut membutuhkan energy yang berasal dari ATP.

1)    Endositosis
a.    Receptor-Mediated Endositosis of LDL Particle
            Endositosis yang diperantarai reseptor sangat spesifik. Yang tertanam dalam membrane adalah protein dengan tempat reseptor yang sangat spesifik yang dipaparkan ke fluida ekstraseluler. Ekstraseluler yang terikat pada reseptor disebut ligan, suatu istilah umum untuk setiap molekul yang terikat khususnya pada tempat reseptor molekul lain. Protein reseptor biasanya mengelompok dalam protein terlapisi, yang sisi sitoplasmiknya dilapisi oleh lapisan protein samar. Protein pelapis ini membantu memperdalam lubang dan membentuk vesikula. Endositosis yang diperantarai reseptor memungkinkan sel dapat memperoleh substansi spesifik dalam jumlah yang melimpah, sekalipun substansi itu mungkin saja konsentrasinya tidak tinggi dalam fluida intraseluler. Sel manusia menggunakan proses ini untuk menyerap kolesterol dan digunakan dalam sintesis membrane dan sebagai precursor untuk sintesis steroid lainnya.
Mekanisme endositosis yang diperantarai reseptor adalah sebagai berikut:
1. Kolesterol berpindah dalam partikel darah disebut lipoprotein densutas rendah (low-density lipoprotein - LDL). Kolesterol tersebut dikelilingi oleh lapisan fosfolipid dan juga protein. Protein inilah yang dikenali secara spesifik oleh reseptor LDL yang tertanam pada membrane plasma.
2. LDL partikel (kolesterol yang dikelilingi lapisan fosfolipid dan protein) kemudian terikat ke reseptor LDL yang tertanam pada membrane.
3. Molekul adaptin kemudian terikat pada ekor LDL reseptor. Molekul adaptin segera menstimulasi terikatnya Clathrin. Clathrin merupakan jenis protein yang memfasilitasi pembentukan vesikula. Dengan terikatnya Clathrin, maka sebagian kecil luas membran plasma terbenam ke dalam membentuk kantong. Begitu kantong ini semakin dalam, kantong ini terjepit membentuk vesikula. Vesikula yang diselubungi oleh molekul adaptin dan clathrin kemudian terlepas dari membrane plasma.
4. Setelah tiba di sitosol, molekul adaptin dan clathrin yang melekat pada permukaan vesikula ini kemudian terlepas. Selanjutnya, vesikula ini berfusi dengan endosome.
5. Endosome memiliki pH internal yang rendah, sehingga menyebabkan LDL reseptor melepaskan muatannya ( muatannya yaitu molekul kolesterol yang diselubungi protein dan lapisan fosfolipid). LDL reseptor yang telah melepaskan muatannya akan segera dikembalikan ke membrane plasma. Sebuah vesikula yang memuat LDL reseptor tersebut akan terlepas dari endosome.
6. Sementara itu, LDL partikel harus dibongkar. Endosome yang berisi LDL partikel tersebut dikirim ke lisosom. Lisosom berisi anzim-enzim hidrolitik yang dapat mencerna partikel LDL, Sehingga akhirnya dihasilkan kolesterol dan juga peptida. Kolesterol (dan juga peptide) kemudian dikeluarkan dari lisosom ke dalam sitosol untuk dapat digunakan dalam proses sintesis membrane baru.


Gambar 2.6 Proses endositosis yang diperantai reseptor

b.    Fagositosis
            Pada fagositosis, sel menelan suatu partikel pseudopod yang membalut di sekitar partikel tersebut dan membungkusnya di dalam kantong berlapis-membran yang cukup besar untuk bias digolongkan sebagai vakuola. Partikel itu dicerna setelah vakuola bergabung dengan lisosom yang mengandung enzim hidrolitik.


c.    Pinositosis
            Pada pinositosis, sel “meneguk” tetesan fluida ekstraseluler dalam vakuola kecil. Karena salah satu atau seluruh zat terlarut yang larut dalam tetesan tersebut dimasukkan ke dalam sel, pinositosis tidak bersifat spesifik dalam substansi yang ditranspornya.

Gambar 2.6 Perbandingan Fagositosis, Pinositosis, dan Endositosis yang diperantai reseptor



2)    Eksositosis
              Sel yang mensekresi makromolekul dengan cara menggabungkan vesikula dengan membrane plasma disebut eksositosis. Vesikula transpor yang lepas dari apparatus Golgi dipindahkan ke sitoskeleton ke membran plasma. Ketika membrane vesikula dan membran plasma bertemu, molekul lipid kedua bilayer menyusun ulang dirinya sendiri sehingga bergabung. Kandungan vesikulanya kemudian tumpah keluar sel.
              Banyak sel sekretoris menggunakan eksositosis untuk mengirim keluar produk-produk mereka. Misalnya sel tertentu dalam pancreas menghasilkan hormone insulin dan mensekresikannya dalam darah melalui eksositosis. Contoh lain adalah neuron, atau sel saraf, yang menggunakan eksositosis untuk melepaskan sinyal kimiawi yang merangsang neuron lain atau sel otot. Ketika sel tumbuhan sedang membuat dinding, eksositosis mengeluarkan karbohidrat dari vesikula Golgi ke luar selnya.
Jadi, eksositosis adalah proses mengeluarkan benda dari dalam sel ke luar sel. Membran yang menyelubungi sel tersebut akan bersatu atau berfusi dengan membran sel. Cara ini adalah salah satu mekanisme yang digunakan sel-sel kelenjar untuk menyekresikan hasil metabolisme. Misalnya, sel-sel kelenjar di pankreas yang mengeluarkan enzim ke saluran pankreas yang bermuara di usus halus. Sel-sel tersebut mengeluarkan enzim dari dalam sel menggunakan mekanisme eksositosis.
image

Proses pengeluaran sekret dapat dilakukan dengan cara eksositosis.
Pada umumnya, eksosistosis dan endositosis digunakan untuk memindahkan benda-benda yang berukuran besar. Kedua proses tersebut, saling menyeimbangkan luas permukaan plasma membran sehingga volume sel tidak harus menjadi lebih kecil dari semula.
























BAB 3
Penutup

Kesimpulan
·         Membran merupakan suatu mosaik fluida yang terdiri atas lipid, protein, dan karbohidrat. Protein yang terpadu tertanam dalam bilayer lipid; protein periferal dilekatkan pada permukaan. Muka membran bagian dalam dan bagian luar berbeda komposisinya. Karbohidrat yang terhubung dengan protein dan lipid dalam membran plasma penting untuk pengenalan sel-sel
·         Transpor aktif merupakan difusi melintasi suatu membran. Difusi merupakan perpindahan spontan suatu substansi menuruni gradien konsentrasinya.
·         Osmosis merupakan transpor pasif air. Air mengalir melintasi membran dari sisi yang konsentrasi zat terlarutnyakurang (hipotonik) ke sisi  yang konsentrasi zat terlarutnya lebih tinggi (hipertonik). Jika konsentrasi zat terlarut sma (isotonik),tidak terjadi selisih osmosis
·         Eksositosis dan endositosis mentranspor molekul besar. Pada eksositosis, vesikula transpor bermigrasi ke membran plasma, bergabung dengannya, dan melepaskan kandungannya. Pada endositosis, molekul besar memasuki sel di dalam vesikula yang di jepit kedalam dari membran plasma. Ketiga jenis endositosis ialah fagositosis, pinositosis, dan endositosis yang diperantarai reseptor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar