Kamis, 19 Juni 2014

BAHAN TAMBAHAN PANGAN bahaya si'pemanis buatan ASPARTAM


I.                   Latar belakang

Bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan. BTP ditambahkan untuk memperbaiki karakter pangan agar kualitasnya meningkat. Pemakaian BTP merupakan salah satu langkah teknologi yang diterapkan oleh industri pangan berbagai skala. Sebagaimana langkah teknologi lain, maka risiko-risiko kesalahan dan penyalahgunaan tidak dapat dikesampingkan. BTP pada umumnya merupakan bahan kimia yang telah diteliti dan diuji lama sesuai dengan kaidah – kaidah ilmiah yang ada. Pemerintah telah mengeluarkan aturan-aturan pemakaian BTP secara optimal.
Dalam kehidupan sehari-hari BTP sudah digunakan secara umum oleh masyarakat. Kenyataannya masih banyak produsen makanan yang menggunakan bahan tambahan yang berbahaya bagi kesehatan. Efek dari bahan tambahan beracun tidak dapat langsung dirasakan, tetapi secara perlahan dan pasti dapat menyebabkan sakit. Penyimpangan atau pelanggaran mengenai penggunaan BTP yang sering dilakukan oleh produsen pangan, yaitu :
1) Menggunakan bahan tambahan yang dilarang penggunaannya untuk makanan;
2) Menggunakan BTP melebihi dosis yang diizinkan.
Penggunaan bahan tambahan yang beracun atau BTP yang melebihi batas akan membehayakan kesehatan masyarakat, dan berbahaya bagi pertumbuhan generasi yang akan datang. Karena itu produsen pangan perlu mengetahui peraturan-peratun yang telah dikeluarkan oleh pemerintah mengenai penggunaan BTP.
Secara khusus tujuan penggunaan BTP di dalam pangan adalah untuk :
1) Mengawetkan makanan dengan mencegah pertumbuhan mikroba perusak pangan atau mencegah terjadinya reaksi kimia yang dapat menurunkan mutu pangan;
2) Membentuk makanan menjadi lebih baik, renyah dan lebih enak di mulut,
3) Memberikan warna dan aroma yang lebih menarik sehingga menambah selera,
4) Meningkatkan kualitas pangan dan
5) menghemat biaya.
Produsen produk pangan menambahkan BTP dengan berbagai tujuan, misalnya membantu proses pengolahan, memperpanjang masa simpan, memperbaiki penampilan dan cita rasa, serta pengaturan keseimbangan gizi.

II.                Tujuan

Makalah ini disusun dan dibuat bertujuan untuk memberikan informasi dan wawasan kepada pembaca mengenai bahan tambahan pangan. Serta menghimbau tentang pentingnya kesehatan bila menggunakan bahan tambahan pangan yang berlebihan.

 

III.             Rumusan masalah

a.       Pengertian bahan tambahan pangan ?
b.      Jenis bahan tambahan ?
c.       Fungsi bahan tambahan ?
d.      Masalah penggunaan bahan tambahan












BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


I.                   Definisi

Pengertian bahan tambahan pangan secara umum adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan kedalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, dan penyimpanan (Cahyadi, 2006). Peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi pangan pada bab 1 pasal 1 menyebutkan, yang dimaksud dengan bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan kedalam makanan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan atau produk pangan.
Menurut FAO di dalam Furia (1980), bahan tambahan pangan adalah senyawa yang sengaja ditambahkan kedalam makanan dengan jumlah dan ukuran tertentu dan terlibat dalam proses pengolahan, pengemasan, dan atau penyimpanan. Bahan ini berfungsi untuk memperbaiki warna, bentuk, cita rasa, dan tekstur, serta memperpanjang masa simpan, dan bukan merupakan bahan (ingredient) utama. Menurut Codex, bahan tambahan pangan adalah bahan yang tidak lazim dikonsumsi sebagai makanan, yang dicampurkan secara sengaja pada proses pengolahan makanan. Bahan ini ada yang memiliki nilai gizi dan ada yang tidak (Saparinto, 2006). Pemakaian Bahan Tambahan Pangan di Indonesia diatur oleh Departemen Kesehatan. Sementara, pengawasannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengawasa Obat dan Makanan (Dirjen POM).






II.                Jenis bahan tambahan

Beberapa Bahan Tambahan yang diizinkan digunakan dalam makanan menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 diantaranya sebagai berikut:
a.       Antioksidan (Antioxidant)
b.      Antikempal (Anticaking Agent)
c.       Pengatur Keasaman (Acidity Regulator)
d.      Pemanis Buatan (Artificial Sweeterner)
e.       Pemutih dan Pematang Telur (Flour Treatment Agent)
f.       Pengemulsi, Pemantap, dan Pengental (Emulsifier, Stabilizer, Thickener)
g.      Pengawet (Preservative)
h.      Pengeras (Firming Agent)
i.        Pewarna (Colour)
j.        Penyedap Rasa dan Aroma, Penguat Rasa (Flavour, Flavour Enhancer)
k.      Sekuestran (Sequestrant)
Beberapa bahan Tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan, menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 diantaranya sebagai berikut:

a.       Natrium Tetraborat (Boraks)
b.      Formalin (Formaldehyd)
c.       Minyak nabati yang dibrominasi (Brominated Vegetable Oils)
d.      Kloramfenikol (Chlorampenicol)
e.       Kalium Klorat (Pottasium Chlorate)
f.       Dietilpirokarbonat (Diethylpyrocarbonate)
g.      Nitrofuranzon (Nitrofuranzone)
h.      P-Phenetilkarbamida (p-Phenethycarbamide, Dulcin, 4-ethoxyphenyl urea)
i.        Asam Salisilat dan garamnya (Salilicylic Acid and its salt)
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988, selain bahan tambahan diatas masih ada bahan tambahan kimia yang dilarang seperti rhodamin B (pewarna merah), methanyl yellow (pewarna kuning), dulsin (pemanis sintesis), dan kalsium bromat (pengeras).

    II.            Fungsi bahan tambahan

Tujuan penggunaan bahan tambahan pangan adalah dapat meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan, membuat bahan pangan lebih mudah dihidangkan, serta mempermudah preparasi bahan pangan. Pada umumnya bahan tambahan pangan dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu sebagai berikut:
1.      Bahan tambahan pangan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam makanan, dengan mengetahui komposisi bahan tersebut dan maksud penambahan itu dapat mempertahankan kesegaran, cita rasa dan membantu pengolahan, sebagai contoh pengawet, pewarna dan pengeras.
2.      Bahan tambahan pangan yang tidak sengaja ditambahkan, yaitu bahan yang tidak mempunyai fungsi dalam makanan tersebut, terdapat secara tidak sengaja, baik dalam jumlah sedikit atau cukup banyak akibat perlakuan selama proses produksi, pengolahan, dan pengemasan. Bahan ini dapat pula merupakan residu atau kontaminan dari bahan yang sengaja ditambahkan untuk tujuan produksi bahan mentah atau penanganannya yang masih terus terbawa kedalam makanan yang akan dikonsumsi. Contoh bahan tambahan pangan dalam golongan ini adalah residu pestisida (termasuk insektisida, herbisida, fungisida, dan rodentisida), antibiotik, dan hidrokarbon aromatic polisiklis.
Bahan tambahan pangan yang digunakan hanya dapat dibenarkan apabila:
1.      Dimaksudkan untuk mencapai masing-masing tujuan penggunaan dalam pengolahan;
2.      Tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang salah atau yang tidak memenuhi persyaratan;
3.      Tidak digunakan untuk menyembunyikan cara kerja yang bertentangan dengan cara produksi yang baik untuk pangan;
4.      Tidak digunakan untuk menyembunyikan kerusakan bahan pangan.
Penggunaan bahan tambahan pangan sebaiknya dengan dosis dibawah ambang batas yang telah ditentukan. Jenis BTP ada 2 yaitu GRAS (Generally Recognized as Safe), zat ini aman dan tidak berefek toksik misalnya gula (glukosa). Sedangkan jenis lainnya yaitu ADI (Acceptable Daily Intake), jenis ini selalu ditetapkan batas penggunaan hariannya (daily intake) demi menjaga/ melindungi kesehatan konsumen. Di Indonesia telah disusun peraturan tentang Bahan Tambahan Pangan yang diizinkan ditambahkan dan yang dilarang (disebut Bahan Tambahan Kimia) oleh Depertemen Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1168/MenKes/Per/X/1999.

 








BAB III

STUDI KASUS

Saat ini sedang ada wabah pengerasan otak atau sumsum tulang belakang dan lupus. Kebanyakan orang tidak mengerti mengapa wabah ini terjadi dan  mereka tidak mengetahui mengapa penyakit-penyakit ini begitu merajalela. Saya akan beritahu anda mengapa kita menghadapi masalah yang serius ini.
Saat ini banyak orang menggunakan pemanis buatan. Mereka melakukan ini karena iklan di televisi yang memberitakan bahwa gula itu tidak baik buat kesehatan mereka. Hal ini memang benar sekali. Gula itu merupakan racun bagi tubuh kita, akan tetapi, apa yang orang-orang gunakan sebagai pengganti gula, lebih mematikan.
Apa yang saya maksudkan di sini adalah Aspartame. Ini adalah biang wabah  yang disebutkan di atas. Aspartame merupakan bahan kimia yang mengandung  racun, yang diproduksi oleh perusahaan kimia bernama Monsanto.
Aspartame telah dipasarkan ke seluruh dunia sebagai pengganti gula dan dapat dijumpai pada semua jenis minuman ringan untuk diet, seperti Diet Coke dan Diet Pepsi. Hal ini juga dapat dijumpai pada produk pemanis buatan seperti Nutra Sweet, Equal, dan Spoonful; dan ini banyak digunakan di produk-produk pengganti gula.
Aspartame dipasarkan sebagai satu produk diet, tapi ini sama sekali bukanlah produk untuk diet. Kenyataannya, ini dapat menyebabkan berat tubuh Anda bertambah karena ini dapat membuat anda kecanduan karbohidrat.




Aspartam “si pemanis buatan”

I.                   Pengertian

II.                Sejarah


III.             Sifat dan kegunaan

IV.             Metabolisme

V.                Efek aspartame

Coba Anda membeli produk makanan ringan terkenal atau membeli minuman yang manis rasanya di supermarket, terus perhatikan labelnya, akan tercantum nama aspartame di sana. Selain itu, para profesional kesehatan juga menganjurkan aspartame sebagai gula yang aman bagi  penderita diabetes (misal: Tropicana Slim). Namun, tahukah Anda bahwa aspartame ternyata efektif digunakan sebagai racun semut.
Pernah terjadi, seseorang memiliki masalah hama semut di kamar mandinya. Sadar akan pengaruh aspartame sebagai bahan kimia yang beracun, suatu hari dia menaburkan aspartame di tiap pojok kamar mandinya. Ternyata usahanya berhasil. Dia tidak melihat semut-semut ada di kamar mandinya lagi.
Aspartame juga efektif untuk mengenyahkan masalah semut merah (biasanya tidak mempan dengan berbagai racun). Tidaklah heran jika aspartame bekerja bak racun serangga, karena asam asparctic yang terkandung dalam produk beracun telah terbukti bersifat exitotoxin yang menyebabkan sel-sel otak menjadi cepat mati, sama seperti yang terjadi dengan kasus semut-semut tadi.
Senyawa kimia sejenis alkohol yang terdapat dalam aspartam, di dalam lambung berubah menjadi formaldehid (formalin) yang kemudian mengalami perubahan menjadi senyawa asam yang bernama asam format, sehingga pada akhirnya menimbulkan peningkatan derajat keasaman dalam darah, atau asidosis metabolik. Senyawa asam yang terbentuk tersebut serupa dengan racun pada sengat semut api. Formaldehid yang terbentuk dapat terakumulasi dalam sel, kemudian bereaksi dengan berbagai enzim dan DNA di mitokondria maupun inti sel, sehingga berpotensi mencetuskan keganasan atau kangker pada pengguna jangka panjang.
Penelitian dengan tikus percobaan yang dilaporkan dalam majalah SCIENCE bulan juli 2007, memperlihatkan bahwa dengan menggunakan kadar aspartam yang lebih rendah dari dosis yang di konsumsi oleh manusia, sudah dapat menyebabkan timbulnya kangker kelenjar getah bening (limfoma maligna) dan kangker darah (leukemia), dan bila menggunakan dosis yang lebih tinggi lagi akan menimbulkan keganasan paada seluruh organ tubuh.
Sengaja atau tidak, zat berbahaya tersebut masuk ke tubuh lewat makanan maupun minuman yang dikonsumsi setiap hari. Berbagai problem kesehatan seperti tumor otak, keganasan kelenjar getah bening, leukemia, lupus,gangguan nyeri otot, dan kepikunan sebagai akibat perubahan kimiawi di jaringan otak dan berpotensi mematikan pada penderita parkinson, belakangan ini banyak dikaitkan dengan merebaknya penggunaan aspartam

Jika tadi adalah contoh efek negatif aspartame terhadap semut, berikut adalah penuturan para ahli mengenai efek negative aspartame bagi manusia yang cukup mengerikan dan tak kalah dengan bahayanya formalin.
“Aspartame (NutraSweet) merusak secara pelan-pelan dan tak terasa bagi tubuh dan itulah alasan mengapa kita harus menghindarinya. Akan diperlukan satu tahun, lima, 10 atau 40 tahun, tapi dalam jangka panjang akan nampak perubahan yang menyebabkan penyakit ringan maupun berat. Aspartame punya efek yang mendalam pada mood seseorang, kecemasan, pusing, kepanikan, mual, iritabilitas, gangguan ingatn dan konsentrasi.” Ralph Walton, M.D
“Saya telah mengamati adanya masalah kerusakan intelektual yang berat sehubungan dengan penggunaan produk-produk aspartame. Biasanya bermanifestasi dalam susah membaca dan menulis, susah mengingat, sering lupa waktu, tempat bahkan orang lain yang pernah dia kenal. Banyak efek dari aspartame begitu serius termasuk kejang-kejang dan kematian. Efek lainnya yaitu: sakit kepala/migraine, pusing, sakit persendian, mual, mati rasa, kejang otot, kegemukan, gatal-gatal, depresi, kelelahan, lekas marah, tachycardia, insomnia, kebutaan, ketulian, jantung berdebar, sesak nafas, kecemasan, gangguan berbicara, kehilangan indra pengecap, telinga berdengung, vertigo, dan lupa ingatan.” H. J. Roberts, M.D.
Membuat berat tubuh anda Bertambah hanyalah sebuah hal kecil yang dapat dilakukan oleh Aspartame. Aspartame adalah bahan kimia beracun yang dapat merubah kimiawi pada  otak dan sungguh mematikan bagi orang yang menderita karena penyakit  parkinson.
Bagi penderita diabetes, hati-hatilah bila mengkonsumsi untuk jangka  waktu yang lama atas produk yang mengandung Aspartame ini, karena dapat  menyebabkan koma, bahkan meninggal. Bila ada produk yang mengklaim bahwa produk itu bebas gula, anda  sudah  tahu bahwa hal ini mengandung Aspartame. Jangan mengkonsumsi produk  tersebut. Salah satu minuman suplemen yang mengandung ASPARTAME adalah serbuk effervescent EXTRA JOSS ! ada kemasan tertulis : Mengandung  Aspartame 0,06% [ADI 40 mg/kg BB]

VI.             Keamanan Aspartam

Aspartam  telah dinyatakan aman digunakan baik untuk penderita kencing manis, wanita hamil, wanita menyusui bahkan anak-anak. Pengecualiannya hanya satu, penderita fenilketonuria. Menurut US Food and Drug Administration (FDA), The Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA), Americam Medical association (AMA), The American Council On Sience and Health (ACSH) aspartam merupakan bahan makanan yang aman bagi kesehatan, hanya berpengaruh pada rasa manis.
Penelitian yang menggunakan aspartam secara bolus sebesar 34 mg/kg berat badan memperlihatkan bahwa walaupun hasil metabolisme aspartam dapat melewati sawar darah plasent, jumlahnya tidak bermakna untuk sampai dapat menimbulkan gangguan saraf pada janin. Penelitian besar yang dilakukan terhadap manusia, bukan hewan tikus menjelaskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa  minuman soda yang mengandung pemanis aspartam dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Aspartam dapat diurai oleh tubuh menjadi kedua asam amino tersebut dan termasuk pemanis nutritif. Hanya, aspartam tidak tahan suhu tinggi, karena pada suhu tinggi aspartam terurai menjadi senyawa yang disebut diketopeporazin yang meskipun tidak berbahaya bagi tubuh, tetapi tidak lagi manis. Karena itu, aspartam tidak dipakai dalam produk pembuat kue dan dipakai hanya untuk minuman,es krim, dan  yoghurt. Jika dicerna secara normal oleh tubuh, aspartam akan menghasilkan asam aspartat dan fenilalanin. Dengan demikian, aman untuk dikonsumsi.
Fenilketonuria adalah penyakit di mana penderita tidak dapat memetabolisme fenilalanin secara baik karena tubuh tidak mempunyai enzim yang mengoksida fenilalanin menjadi tirosin dan bisa terjadi kerusakan pada otak anak. Dan karena itu perlu untuk mengontrol asupan fenilalanin yang didapatnya. Penyakit ini tidak pernah ditemukan di Indonesia, tetapi pada orang kulit putih, itupun kejadiannya hanya satu per 15.000 orang. Bukan hanya aspartam, tapi juga segala macam makanan yang mengandung fenilalanin termasuk nasi, daging dan produk susu. Karena itu, pada setiap produk yang mengandung aspartam ada tanda peringatan untuk penderita fenilketonuria bahwa produk yang dikonsumsi tersebut mengandung fenilalanin.
Untuk meningkatkan faktor keamanan dalam penggunaannya, FDA pun memberikan batas-batas pemakaian yang dianjurkan. Istilah yang dipakai adalah Acceptable Daily Intake (ADI) yang berarti asupan harian yang diperbolehkan. Ukuran yang dipergunakan adalah jumlah pemanis per kilogram berat badan per hari yang dapat dikonsumsi secara aman sepanjang hidupnya tanpa menimbulkan risiko. ADI adalah tingkat yang konservatif, yang umumnya menggambarkan jumlah 100 kali lebih kecil dibandingkan tingkat maksimal yang tidak memperlihatkan efek samping dalam penelitian binatang. ADI untuk aspartam adalah 40 mg/kg berat badan.

VII.          Gejala keracunan aspartame

Berbagai gejala yang timbul sebagai akibat keracunan aspertam, pada umumnya dibagi menjadi 3 tipe :
1.      Reaksi keracunan akut yang timbul dalam kurun waktu 48jam setelah mengonsumsi produk yang mengandung aspartam
2.      Efek keracunan kronis dapat timbul dalam hitungan hari hingga tahun setelah mengonsumsi aspartam jangka panjang
3.      Efek toksik yang tidak atau sulit dikenali oleh pengguna aspartam
Pada survei epidemiologis, dari 551 orang yang dilaporkan mengalami keracunan aspartam, gejala yang timbul pada keracunan akut ialah mual, muntah, nyeri perut, mata kabur, pendangan menyempit, nyeri kedua bola mata, hingga kebutaan, jantung berdebar,  dan sesak napas.
Pada keracunan kronis, gejala yang sering timbul adalah perubahan pola menstruasi, rambut rontok, rasa haus yang berlebihan, nyeri pada persendian, mudah mengalami infeksi.
Sakit kepala, telinga berdenging, pusing , penurunan daya ingat , depresi, mudah tersinggung, kecemasan berebihan adalah efek toksik yang sering kali tidak di sadari baik oleh dokter maupun yang bersangkutan, sehingga menjalani berbagai macam pemeriksaan maupun penggunaan obat yang tidak perlu.
Bila ada gejala seperti tersebut, yakinlah terlebih dahulu bahwa tidak ada riwayat mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung aspartam.

VIII.       Cara pencegahan

    1. Lindungi diri sendiri dengan menghentikan mengonsumsi segala jenis makanan maupun minuman yang mengandung aspartam dan selalu baca setiap label makanan dan minuman yang akan anda beli atau konsumsi
    2. Ganti aspartam dengan pemanis yang sehat, yang berasal dari alamiah, bukan pemanis buatan. Jangan terkecoh dengan reklame produk pemanis buatan yang beredar di pasaran.
    3. Berbagi informasi dengan teman, kerabat dan siapapun yang anda kasihi, agar tidak mengonsumsi aspartam dengan dosis sekecil apapun.


















BAB IV

PEMBAHASAN

1.      Untuk meningkatkan faktor keamanan dalam penggunaannya, FDA pun memberikan batas-batas pemakaian yang dianjurkan.Istilah yang dipakai adalah Acceptable Daily Intake (ADI) yang berarti asupan harian yang diperbolehkan. ADI untuk aspartam adalah 40 mg/kg berat badan. Sepanjang industri-industri makanan menerapkan batasan ADI ini, maka tidak perlu ada kekhawatiran terhadap munculnya over dosis.Batasan ADI yang 40 mg/kg berat badan ini hampir-hampir tidak mungkin terlampaui dalam pemakaian umum sehari-hari. Pada kenyataannya, jumlah yang kita konsumsi rata-rata hanya sekitar 10% dari ADI.Dengan tingkat kemanisan yang tinggi, maka konsumsi aspartam yang sedikit sudah menimbulkan rasa manis berkali-kali lipat dibandingkan gula biasa. Di Indonesia Badan POM juga menetapkan batasan ADI seperti yang diterapkan FDA yakni 40 mg/kg berat badan.Industri makanan/minuman di Indonesia tentu sudah memahami hal ini. Mereka telah berinvestasi dengan modal sangat besar, oleh karena itu industri tidak akan berani bermain-main dengan mempertaruhkan keselamatan konsumen. Mereka akan mematuhi aturan ataupun standar keamanan yang telah ditetapkan oleh yang berwenang.
2.      Pada tahun 2005 ERF di Eropa mempublikasikan penemuannya berdasarkan studi pemberian aspartam jangka panjang pada tikus. Peneliti dari ERF menyimpulkan bahwa aspartam menyebabkan kanker dan penggunaan serta konsumsi pemanis buatan sebaiknya dievaluasi kembali.Namun, setelah European Food Safety Authority-EFSA meninjau kesimpulan studi ERF, EFSA menyatakan bahwa kesimpulan ERF dianggap tidak valid (salah), bahkan EFSA menganggap tidak perlu meninjau ADI yang telah ditetapkan.Untuk meningkatkan faktor keamanan dalam penggunaannya, FDA pun memberikan batas-batas pemakaian yang dianjurkan. Istilah yang dipakai adalah Acceptable Daily Intake (ADI) yang berarti asupan harian yang diperbolehkan. Ukuran yang dipergunakan adalah jumlah pemanis per kilogram berat badan per hari yang dapat dikonsumsi secara aman sepanjang hidupnya tanpa menimbulkan risiko.ADI adalah tingkat yang konservatif, yang umumnya menggambarkan jumlah 100 kali lebih kecil dibandingkan tingkat maksimal yang tidak memperlihatkan efek samping dalam penelitian binatang. ADI untuk aspartam adalah 40 mg/kg berat badan.Aspartam telah dinyatakan aman digunakan baik untuk penderita kencing manis, wanita hamil, wanita menyusui bahkan anak-anak. Pengecualiannya hanya satu, penderita fenilketonuria. Menurut US Food and Drug Administration (FDA), The Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA), Americam Medical association (AMA), The American Council On Sience and Health (ACSH) aspartam merupakan bahan makanan yang aman bagi kesehatan, hanya berpengaruh pada rasa manis.



BAB V

KESIMPULAN

Jadi, dalam hal zat aditif makanan/minuman ini sepanjang aturan dan standar dipenuhi, maka konsumen niscaya tetap aman ketika mengonsumsinya. Kita percaya kepada Badan POM yang selama ini telah melakukan fungsi pengawasan terhadap produk-produk makanan/minuman yang beredar di pasaran.
Dan tetap pilihan ada pada Anda, apakah percaya atau tidak dalam masalah ini, yang pasti tetaplah berhati-hati, walaupun aman di konsumsi kalau kita konsumsi terus-menerus tetaplah tidak bagus buat tubuh kita, setuju?

SARAN

Paling aman kalau kita tetap tidak memakai pemanis apapun. Dibiasakan tidak memakai pemanis maupun gula pasir ( bagi orang tua dg DM ), akan lebih baik dp pakai gula, kalau makanan/minuman kita kepingin ada rasa manis nya, sebaik nya pakai MADU, yg sudah terbukti PALING AMAN dan bermanfaat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar