Kamis, 19 Juni 2014

farmakologi umum


I.                   Pengantar farmakologi
a.      Pendahuluan
Farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa terhadap sel hidup, lewat proses kimia khususnya lewat reseptor.
Obat didefinisikan sebagai senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati, mendiagnosis penyakit/gangguan, atau menimbulkan suatu kondisi tertentu, misalnya membuat seseorang infertile,atau melumpuhkan otot rangka selama pembedahan.
            Farmakologi memiliki keterkaitan khusus dengan farmasi, yaitu ilmu mengenai cara membuat,memformulasi,menyimpan,dan menyediakan obat. Farmakognosi termasuk ilmu farmasi yang menyangkut cara pengenalan tanaman dan bahan-bahan lain sebagai sumber obat dari alam.
Farmakokinetik  ialah apa yang dialami obat yang diberikan pada suatu makhluk meliputi absorpsi , distribusi , biotransformasi dan eksresi.
Farmakodinamik menyangkut pengaruh obat terhadap sel hidup,organ atau makhluk, secara keseluruhan erat berhubungan dengan fisiologi,biokimia, dan patologi.
Farmakodianamik maupun farmakokinetik obat diteliti terlebih dahulu pada manusia dan disebut sebagai farmakologi eksperimental.
Obat farmakodinamik bekerja meningkatkan atau menghambat fungsi suatu organ. Sedangkan obat farmakokinetik tidak bekerja pada organ tubuh tetapi pada agen penyebab penyakit misalnya kuman, virus,jamur, atau sel kangker, lebih terkait dengan mikrobiologi atau parasitology.
Farmakologi klinik , yang mempelajari secara mendalam farmakodinamik dan farmakokinetik pada manusia sehat maupun sakit.
Farmakologi dasar yang lebih menekankan mekanisme keja obat dan farmakokinetiknya secara umum, sebagai dasar penggunaanya dalam klinik tanpa penekanan pada penggunaanya secara rinci.
Toksikologi , yang mempelajari efek racun dari zat kimia, mencakup yang digunakan dalam indrustri, rumah tangga dan pertanian, tidak dapat dilepaskan dari farmakologi.


b.      Farmakokinetika
Proses farmakokinetika








Text Box: Biotransformasi
 















                                                              i.      Absorpsi
Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian kedalam darah. Factor yang mempengaruhi absorpsi obat :
1.      Bentuk dan ukuran molekul
2.      Kelarutan dalam air
3.      Derajat ionisasi (pH, pKa)
4.      Kelarutan dalam lemak (jumlah/bagian bentuk non ion) ; rasio Ci /Cn
Absorpsi sebagian besar obat secara difusi pasif, maka sebagai barrier absorpsi , adalah membrane sel epitel saluran cerna, yang seperti halnya semua membrane sel ditubuh kita, merupakan lipid bilayer. Agar dapat melintasi sel membrane tersebut, molekul obat harus mempunyai kelarutan lemak (setelah terlebih dahulu larut kedalam air). Kecepatan difusi berbanding lurus dengan derajat kelarutan lemak molekul obat (selain dengan perbedaan kadar obat lintas membrane, yang merupakan driving force proses difusi, dan dengan luasnya area permukaan membrane tempat difusi)
Kebanyakan obat ialah elektrolit lemah,yakni asam lemah atau basa lemah. Dalam air, elektrolit lemahh ini akan terionisasi menjadi bentuk ionnya. Derajat ionisasi obat bergantung pada konstanta ionisasi obat (pKa) dan pada pH larutan dimana obat berada.

                                                            ii.      Distribusi
Dalam darah, obat akan diikat oleh protein plasma dengan berbagai ikatan lemah (ikatan hidrofobik, van der waals, hydrogen ,dan ionic).
Oleh karena ikatan antara obat dengan protein plasma merupakan ikatan yang reversible, maka jika obat bebas telah keluar jaringan, obat yang terikat protein akan menjadi bebas sehingga distribusi berjalan terus sampai habis. Ikatan dengan protein plasma ini kuat untuk obat yang lipofilik sedangkan lemah untuk obat yang hidrofilik.
Factor yang mempengaruhi bioavailabilitas :
1.      Factor obat
a.       Sifat fisiko kimia obat
b.      Formulasi obat
2.      Factor penderita
a.       pH saluran cerna,fungsi empedu
b.      kecepatan pengosongan lambung
c.       waktu transit
d.      perfusi saluran cerna
e.       kapasitas absorpsi cerna
f.       kapasitas absorpsi
g.      metabolism dalam saluran cerna
3.      interaksi dalam absorpsi di saluran cerna
a.       makanan
b.      perubahan pH,molalitas,perfusi saluran cerna
c.       gangguan fungsi normal mukosa usus
d.      interaksi langsung (kelat,adsorpsi,terikat pada resin)
Sawar darah otak merupakan sawar antara darah dan otak : sel-sel endotel pembuluh darah kapiler di otak membentuk tight-junction (tidak ada celah diantara sel endotel tersebut) dan pembuluh darah kapiler ini dibalut oleh tangan-tangan astrosit otak yang merupakan berlapis-lapis membrane sel.
Sawar uri terdiri dari satu lapis sel epitel vili dan satu lapis sel endotel kapiler dari fetus, jadi mirip sawar saluran cerna.



                                                          iii.      Metabolisme
Tujuan metabolism ialah mengubah obat yang non polar menjadi polar agar dapat dieksresi melalui ginjal atau ampedu. Metabolism terdiri dari 2 fase :
1.      Fase I : oksidasi (oleh enzim cytochrome P450 (CYP)),reduksi, dan hidrolisis yang mengubah obat menjadi lebih polar, dengan akibat menjadi inaktif, lebih aktif atau kurang aktif.
2.      Fase II : merupakan reaksi konjugasi dengan substrat endogen: asam glukoronat (glukuronidasi melalui enzim UDP-glukoruniltransferase (UGT)),asam sulfat, asam asetat, atau asam amino, dan hasilnya menjadi sangat polar, dengan demikian hamper selalu tidak aktif.
Jika enzim metabolism mengalami kejenuhan pada kisaran dosis terapi, maka pada peningkatan dosis obat akan terjadi lonjakan kadar obat dalam plasma, yang disebut farmakokinetik non-linear.
                                                          iv.      Eksresi
organ terpenting untuk ekskresi obat adalah ginjal. Obat diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh maupun bentuk metabolitnya. Ekskresi dalam bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan cara eliminasi obat melalui ginjal. Ekskresi melalui ginjal melibatkan 3 proses yaitu filtrasi glomerulus, sekresi aktif di tubulus proksimal dan reabsorpsi pasif di sepanjang tubulus. Fungsi ginjal mengalami kematangan pada usia 6-12 bulan,dan setelah dewasa menurun 1% pertahun.
c.       Farmakodinamik
Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spectrum efek dan respon yang terjadi.
                                                              i.      Kerja obat-tidak diperantarai reseptor
1.      Berdasarkan sifat osmotic :
a.       Dieuretik osmotic : urea, manitol
b.      Katartik osmotic : MgSO4
c.       Mengurangi udem serebral : gliserol
d.      Pengganti plasma : polivinil pirolidon (PVP)
2.      Berdasarkan sifat asam/basa : antasida, NH4Cl, NaHCO3, asam organic (antiseptic saluran kemih)
3.      Zat perusak non spesifik : antiseptic dan desinfektan
4.      Anastetik : mudah menguap : eter, halotan, enfluran
5.      Antibiotic
6.      Anti kanker
7.      Interaksi obat dengan molekul kecil
a.       Pembentukkan kelat
b.      Dimerkaprol + logam berat
c.       Kelat yang terbentuk larut dalam air, keluar bersama urin
8.      Inkorporasi obat dalam makromolekul.
                                                            ii.      Reseptor
1.      Pengertian (Ehrlich) : komponen spesifik sel yang dapat berinteraksi dengan obat, hasil reaksi tersebut menimbulkan rangkaian peristiwa yang menuju timbulnya efek atau respon
2.      Konsep (Langley) :
a.       Potensi tinggi
b.      Stereoisomer menghasilkan potensi yang sangat berbeda
c.       Bentuk reseptor manusia berbeda-beda menimbulkan efek berbeda pada organ tertentu
3.      Ikatan : ion,hydrogen,kovalen,van der waals
4.      Sifat : saturabilitas, spesifitas, reversibilitas, restorasi fungsi (fungsi sel dikembalikan seperti semula)
5.      Komponen : protein
6.      Terdapat : didalam sel, di permukaan sel
7.      Klasifikasi : antagonis , agonis
                                                          iii.      Agonis : obat yang menduduki reseptor fisiologik dan menimbulkan efek serupa zat endogen. Memiliki : afinitas dan aktifitas intrinsic
1.      Afinitas : kemampuan obat untuk berikatan dengan reseptor ,  kemampuan obat untuk membentuk kompleks obat-reseptor
2.      Aktifitas intrinsic (Emaks) : kemampuan intrinsic kompleks obat reseptor untuk menimbulkan aktivitas/ efek farmakologik
                                                          iv.      Antagonis / bloker : obat yang menduduki reseptor fisiologik tetapi tidak menimbulkan efek. Memiliki : afinitas .
a.      Farmakologi : efeknya berlawanan
b.      Fisiologik : fungsinya berlawanan
c.       Biokimiawi : reaksi yang berlawanan
d.      Kimiawi : sifat obat dengan organ berlawanan
1.      Antagonis kompetitif : pengaruh antagonis dapat diatasi dengan memperbesar kadar agonis
2.      Antagonis non kompetitif : pengaruh antagonis tidak dapat diatasi dengan memperbesar agonis
                                                            v.      Interaksi substrat-enzim ~ ikatan obat-reseptor
1.      Dosis intensitas efek (DEC) = kurva hiperbola
2.      Log dosis-intensitas efek (log DEC) = kurva sigmoid
3.      Log dosis-intensitas efek (log DEC) dengan 2 obat berbeda afinitas atau aktivitas intrinsiknya:
a.      Aktivitas intrinsic sama (Emax),afinitas berbeda (K’d>KD)
b.      Afinitas sama (=KD), aktivitas intrinsic berbeda (E’max<Emax)
c.       Afinitas berbeda (K’D>KD), aktivitas intrinsic juga berbeda (E’max<Emax)
                                                          vi.      Variable hubungan dosis-intensitas obat
1.      Potensi
2.      Slope
3.      Efek maksimal
4.      Variabilitas
                                                        vii.      Indeks terapi
1.      LD : letal
2.      ED : terapi
3.      TD : toksik
d.      Terminologi
                                                              i.      Spesifitas : bila kerja agonis hanya pada satu jenis reseptor
                                                            ii.      Selektif : bila hanya menghasilkan satu efek pada dosis yang lebih rendah ; efek lain timbul pada dosis lebih tinggi. Tergantung pada :
1.      Dosis
2.      Cara pemberian
3.      Indek terapi
                                                          iii.      Hiper-reaktif : dosis yang rendah sekali dibutuhkan oleh penderita
                                                          iv.      Hipo-reaktif : dosis tang tinggi sekali dibutuhkan penderita
                                                            v.      Hipersensitif : alergi obat
                                                          vi.      Supersensitive : keadaan hiper-reaktif akibat denervasi
                                                        vii.      Toleransi : akibat hiporeaktif akibat pajanan obat
                                                      viii.      Takifilaksis : toleransi yang terjadi dengan cepat
                                                          ix.      Imunitas : toleransi yang terjadi akibat pembentukan antibody
                                                            x.      Idiosinkrasi : efek obat yang aneh
e.       Uji farmakologi
                                                              i.      Uji praklinik
1.      Uji farmakodinamik
2.      Uji farmakokinetik
3.      Uji toksisitas

Lama pemakaian pada manusia
Lama pemakaian pada hewan
Dosis tunggal atau beberapa obat
Minimal 2 minggu
Sampai 4 minggu
13-26 minggu
> 4 minggu
Minimal 26 minggu

                                                            ii.      Uji klinik
Fase
Subjek 
Tenaga yang menilai
Tujuan
1
Sukarelawan (20-50)
Tenaga ahli dlm bidangnya
Mengetahui besarnya dosis maksimal yang dapat di toleransi
2
Pasien terbatas (100-200)
Tenaga ahli dalam bidangnya
Mengetahui efek terapi obat
3
Penderita (500)
Tenaga yang tidak terlalu ahli
Memastikan efikasi terapi obat
4
masyarakat
Stenaga yg bervariasi :dokter umum - spesialis
Menentukan pola penggunaan obat di masyarakat serta pada efektivitas dari komponennya, pada penggunaan yang sebenarnya

II.                Penggolongan obat
a.      Anti mikroba
Antimikroba ialah obat pembasmi mikroba khususnya mikroba yang merugikan manusia (bakteri/fungi). Antibiotic ialah senyawa kimia yang diproduksi organ dalam konsentrasi rendah untuk menghambat pertumbuhan / membunuh organisme. Kemotropi ialah zat yang dapat membunuh / menghambat pertumbuhan suatu mikroba, tidak toksis terhadap jaringan.
                                                              i.      Factor yang mempengaruhi sifat farmakodinamik dan farmakokinetik :
1.      Umur
2.      Kehaamilan
3.      Genetika
4.      Keadaan patologi tubuh hospes

                                                            ii.      Efek samping antimikroba :
1.      Reaksi alergi
2.      Reaksi idosinkrasi : reaksi abnormal yang diturunkan secara genetika terhadap antimikroba tertentu
3.      Reaksi toksik
4.      Perubahan biologiik dan metabolic
                                                          iii.      Spectrum aktivitas antimikrobiologi
1.      Spectrum sempit
2.      Spectrum luas
                                                          iv.      Penggolongan obat
1.      Berdasarkan daya kerja
a.       Bakteriostatik
b.      Bakterisid
2.      Berdasarkan struktur kimia
a.       Beta lactam
b.      Aminoglikosida
c.       Tetrasiklin
d.      Makrolid
e.       Polipeptida
f.       Kloramfenikol
g.      Antifungi
h.      Tidak terklasifikasi
3.      Berdasarkan mekanisme kerja
a.       Mengganggu metabolisme sel mikroba : sulfonamide
b.      Menghambat sintesis dinding sel mikroba : penisilin
c.       Merusak keutuhan membrane sel : polimiksin
d.      Menghambat sintesis protein : aminoglikosida
e.       Menghambat sintesis asam nukleat : rifampisin
                                                            v.      Penggunaan kombinasi antibiotic
1.      Sinergis
2.      Antagonistic
                                                          vi.      Sebab kegagalan terapi :
1.      Dosis kurang
2.      Waktu terapi kurang
3.      Etiologi yang salah
4.      Factor farmakokinetik
5.      Factor pasien
                                                        vii.      Penggunaan antibiotic yang rasional :
1.      Tepat diagnosis
2.      Tepat indikasi
3.      Tepat dosis
4.      Tepat pemilihan obat
                                                      viii.      Penyebab resistensi : Penggunaan antibiotic yang tidak tepat
                                                          ix.      Mekanisme terjadi resistensi :
1.      Perubahan tempat kerja obat pada mikroba
2.      Mikroba menurunkan permeabilitas
3.      Inaktivasi obat oleh mikroba
4.      Mikroba membentuk jalan pintas untuk menghindari tahap yang dihambat antimikroba
5.      Meningkatkan produksi enzim yang dihambat
                                                            x.      Cara mengatasi resistensi :
1.      Menggunakan dosis yang benar
2.      Mencegah gyna antibiotic secara berlebihan
(lihat table)
b.      Anti mikroba lain
(lihat table)




Antibiotic
Aktivitas antimikroba
Resistensi
Farmakokinetika
Efek samping
Penggunaan klinik
Sulfonamide
Menghambat sintesis asam folat

Spectrum luas

Absorpsi dan reaksi cepat : sulfadiazine, sulfasoksazol
Absorpsi sedikit : suksinilsulfatiazol
Lokal : sulfasetamid
1.       Gangguan saluran kemih
2.       Gangguan sistem hematropoetik
A.      Anemia hemolitik akut
B.      Agranulositosi
C.      Trombositopenia
D.      eosinofilia
1.       Disentri basiler
2.       Meningitis
3.       Infeksi saluran kemih
4.       Nokardiasis
5.       Toksoplasmosis
Kloramfenikol
Menghambat sintesis protein

Menghambat kerja enzim peptidil transferase untuk katalisator

Absorpsi cepat maksimal 2 jam.
Distribusi jaringan otak, cairan serebrospinalis dan mata.
Metabolisme ; konjugasi dengan asam glukoronat
Ekskresi : dieksresi melalui urin
1.       Raksi hematolitik
2.       Reaksi toksik : manifestasi depresi sumsum tulang
3.       Anemia
4.       Alergi : kemerahan kulit , urtikaria
5.       Mual,muntah, diare
6.       Sindrom grey pada bayi premature
7.       Bayi muntah
8.       Tidak mau menyusu
9.       Perut kembung
10.   Tinja berwarna hijau
1.       Banyak indikasi
a.       Emam tifoid, salmonellosis lain
b.      Infeksi haemophillus influenza
2.       Kontra indikasi
a.       Neonates
b.      Pasien dengan gangguan hati
c.       Pasien hipersensitif
Penisilin
Gram positif gram negatif
1.       Pembentukan enzim betalaktamase
2.       Enzin autolysin kuman
3.       Kuman tidak mempunyai dinding sel
Absorpsi :
1.       Penisilin G : mudah rusak dalam asam
2.       Ampisilin : jumlah absorpsi tergantung jumlah dosis
3.       Amoksisilin : jauh lebih baik dari ampisilin
4.       Metisilin dan nafsilin : rusak dalam asam lambung
Distribusi :
Penisilin G : 65%
1.       Reaksi alergi : resah, eosinophilia, demam angioudem, dermatitis, syok anafilaksis
2.       Reaksi iritasi dan toksik
a.       Ototoksisitas : gangguan pendengaran
b.      Nefrotoksisitas : tubuli proksimal ginjal
c.       Neurotoksisitas
d.      Gangguan flora normal
e.      Gangguan absorpsi di usus
1.       Infeksi coccus gram +
2.       Infeksi coccus gram –
3.       Infeksi batang gram +
4.       Infeksi batang gram –
5.       Step, demam rematik, gonnorhoe dan sifilis
Sefalosforin
Gram positif

Oral : absorpsi melalui saluran cerna : sefadroksil
Parenteral : iritasi lokal dan nyeri pada IM
Melewati sawar darah, urin, kadar tinggi di cairan synovial
Diekskresi dalam bentuk utuh
1.       Reaksi alergi
2.       Reaksi anafilaksis dengan spasme
3.       Reaksi comb pada dosis tinggi
4.       Nefrotoksis
5.       Diare
6.       Pendarahan hebat
1.       Infeksi klebsiela
2.       DOC
3.       Infeksi H.Influenza
4.       Infeksi berat
5.       Tidak diobati dengan antibiotic lain
Tetrasiklin
Menghambat sintesis protein bakteri (gram + dan gram - ) aerob dan anaerob

Pengganti penisilin
1.       Ketidakmampuan organisme untuk mengakumulasi obat
2.       Modifikasi tempat pengikatan tetrasiklin
Absorpsi : dalam saluran cerna
Penghambat absorpsi : makanan, pH, logam polivalen
Distribusi : ditimbun dalam hati, limfa, sumsum tulang, email gigi, menembus sawar uri, terdapat dalam air susu
Ekskresi : melalui urin dan ampedu
1.       Reaksi kepekaan
2.       Reaksi toksis dan iritasi (lambung)
3.       Kelainan darah tepi
4.       Hepatoksisitas
5.       Perubahan warna gigi
6.       Super infeksi kuman
7.       Diare
8.       Factor predisposisi : leukemia daya tahan tubuh kurang
1.       Trakoma
2.       Uretitis non spesifik
3.       Kolera
4.       Akne vulgaris













                                                                                                                                                                                                                                        



Antibiotic
Aktivitas antimikroba
Resistensi / interaksi obat
Farmakokinetika
Efek samping
Penggunaan klinik
Golongan makrolid
Mengikat secara reversible pada sub unit 50 S ribosom bakteri
Bakteriostatik
Bakteriosid dalam dosis tinggi
Menurunnya permeabilitas dinding sel kuman
Dihancurkan oleh asam lambung , didistribusi baik keseluruh tubuh kecuali ke cairan serebospinalis, dapat berdifusi kedalam cairan prostat dan mempunyasi sifat akumulasi di makrofag . dimetabolisme secara ekstensif dan menghambat oksidasi sejumlah obat dengan interaksi sitokrom p450 (eritromisin) , azitromisin tidak dimetabolisme.
Dieksresikan dalam bentuk aktif dalam ampedu (eritrmisin dan azitromisin)
Dieliminasi di ginjal (klaritomisin dan metabolitnya)
1.       Reaksi alergi : demam , eosinophilia ekstern
2.       Hepatitis kolestatik
3.       Iritasi saluran cerna : ketulian sementara, dosis tinggi
1.       Streptomyces pyogenes : infeksi saluran nafas
2.       Streptococcus alfa hemolicus : profilaksis
3.       Staphylococcus aureus
4.       Diplococcus pneumonia
5.       Entamoeba hystolitica
Golongan kuinolon





Kelas 1 : asam nalidiksat
Spectrum terbatas

Cepat dimetabolisme
1.       Infeksi saluran kemih
2.       Timbul resistensi

Kelas 2 : turunan asam nalidiksat
Lebih aktif dari asam nalidiksat


Jarang terjadi resisten

Kelas 3 : fluonokuinolon
Spektrum lebih luas

Merusak sel dgn cara difusi pasif melalui kanal protein terisi air (porins) pada membrane luar bakteri
Interaksi obat :
1.       +teofilin : kadar teofilin naik
2.       Logam polivalen : absorpsi kuinolon menurun menjadi resisten
Absorpsi : 35-70% norfloksasin oral yang diabsorpsi yang lain 70-90 %
Distribusi luas cmaks 1-1,5 jam dalam darah , cmaks 2-3 jam dalam jaringan
Kadar dalam prostat ginjal dan ampedu lebih tinggi dibandingkan dalam darah
Resistensi jarang terjadi
1.       Diare dan anoreksia
2.       Sakit kepala, vertigo, pusing
3.       Lesi persendian pada penggunaan dosis tinggi
4.       Reaksi anafilaksis
1.       Infeksi saluran kemih
2.       Uretitis post gonokokal
3.       Demam tifoid
4.       osteomyelitis


Tidak ada komentar:

Posting Komentar