Kamis, 19 Juni 2014

Pengembangan Obat Tradisional


Pengembangan obat dilahirkan oleh ilmu kimia tetapi perkembangannya banyak dipengaruhi oleh ilmu farmakologi, penelitian obat memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan pengobatan dalam satu abad terakhir. Penelitian obat seperti yang kita kenal saat ini dimulai ketika ilmu kimia mencapai tahap kematangan dalam prinsip dan metode yang diaplikasikan untuk mengatasi masalah diluar ilmu itu sendiri, dan ketika farmakologi berkembang suatu disiplin ilmu sendiri. (Drews, 2000).
Penelitian obat meliputi beberapa disiplin ilmu yang berbeda untukmencapai satu tujuan yaitu pengembangan suatu metode terapi yang baru. Penelitian obat secara fungsional dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap penemuan dan pengembangan obat. Tahap penemuan meliputi penentuan target terapi baik berupa enzim atau reseptor yang memiliki aktivitas biologis, dan dilanjutkan dengan proses skrining sehingga diperoleh senyawa yang memiliki aktivitas biologis baik secara in vitro maupun in vivo. Tahap pengembangan obat meliputi evaluasi keamanan dan efikasi dari senyawa baru tersebut secara in vivo. Jika target enzim atau reseptor sudah diketahui, maka digunakan ilmu medisinal yang melihat hubungan antara struktur dan aktivitas baik secara empiris maupun semi empiris untuk menentukan modifikasi struktur sehingga diperoleh senyawa dengan aktivitas in vitro yang maksimal. Aktivitas in vitro yang baik belum tentu diikuti oleh aktivitas in vivo yang baik pula jika tidak didukung oleh bioavailabilitas yang baik dan lama kerja sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, farmakokinetika dan metabolisme obat memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan obat (Lin and Lu, 1997).
Dalam upaya mengembangkan obat tradisional, ketersediaan bahan baku, ketersediaan obat dalam jenis dan jumlah yang cukup, keterjaminan kebenaran khasiat, mutu dan keabsahan obat yang beredar, serta perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan obat yang dapat merugikan/membahayakan masyarakat merupakan faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan. Dalam kondisi seperti saat ini, upaya yang paling tepat adalah mendorong pengembangan obat tradisional ke arah fitofarmaka [produk yang sudah teruji secara klinis], dengan harapan dapat mengurangi ketergantungan terhadap obat modern yang bahan bakunya masih diimpor (Sri Yuliani, 2001)
Di Indonesia, kenyataannya obat tradisional (herbal medicine) ini penetrasinya hanyalah ditingkat konsumen langsung (end user); sedangkan ditingkat komunitas “kalangan medis” dalam pelayanan kesehatan formal–herbal medicine belum dapat diterima sebagai bagian dari pola pengobatan modern; oleh karena itu, perlu adanya upaya uji klinis yang dilakukan oleh pemain di industri obat tradisional ini.
Dari sisi kualitas, sudah banyak terbukti beberapa tanaman obat efektif digunakan untuk beberapa pengobatan. Di Indonesia, beberapa tanaman obat telah terbukti secara empiris dan turun temurun digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, semisal daun sirih (Piper battle folium) digunakan untuk antiseptik; umbi jahe (Zingibers officinale Rosc) digunakan sebagai Analgesik. Antipiretik, dan antiinflamasi; daun katuk (Sauropus androgynus folium) digunakan untuk meningkatkan produk ASI.
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri obat tradisional adalah sebagian besar bahan baku (80%) berasal dari hutan atau habitat alami dan sisanya (20%) dari hasil budi daya tradisional. Penyediaan bahan baku yang masih mengandalkan pada alam tersebut telah mengakibatkan terjadinya erosi genetik pada sedikitnya 54 jenis tanaman obat. Untuk menjamin ketersediaan bahan baku secara berkesinambungan serta mengantisipasi permintaan yang terus meningkat tiap tahunnya maka perlu dilakukan pengembangan usaha tani tanaman obat. Namun upaya pengembangan tersebut menghadapi masalah kurangnya informasi tentang penggunaan benih bermutu dan terbatasnya penelitian mengenai perbenihan, sehingga masih banyak petani yang menggunakan benih asalan yang tidak terjamin mutunya. Akibatnya produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan masih rendah. Selain itu, benih tanaman obat sebagian besar (lebih dari 80%) termasuk benih rekalsitran yang penanganannya agak sulit. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, telah dilakukan berbagai penelitian yang berkaitan dengan teknik produksi dan penanganan benih tanaman obat seperti penentuan waktu panen, teknik produksi benih, penanganan benih, pengeringan, penyimpanan, dan pengemasan.
Kendala lain dalam pengembangan herbal medicine adalah pemasaran, yaitu adanya keengganan unit pelayanan kesehatan formal seperti Puskesmas, poliklinik, atau rumah sakit untuk menggunakan obat tradisional dalam pola pengobatan, karena obat tradisional masih dianggap sebagai produk inferior atau kelas rendah. Untuk mengatasi masalah ini, upaya pengembangan obat tradisional ke arah fitofarmaka merupakan suatu keharusan, karena hanya dengan cara tersebut unit-unit pelayanan kesehatan dapat menerima penggunaan obat tradisional sehingga penggunaan obat tradisional berkembang secara meluas dan diterima oleh seluruh lapisan [Karmawati et al. (1996) dalam Yuliani (2001)]
Peran marketing sangatlah penting untuk memasarkan produk ini ke konsumen dan kalangan medis. Upaya marketing yang terintergrasi melalui perencanaan yang matang, baik research marketing sebelum, saat, dan setelah peluncuran produk-produk herbal medicine ke pasar manjadi sangatlah penting untuk melihat kesuksesan produk ini di pasar.
Dengan semakin terbukanya pengembangan produk-produk herbal medicine baik yang diluncurkan oleh perusahan farmasi ataupun perusahaan jamu ; membuka peluang untuk berkompetisi secara maksimal untuk dapat menghasilkan penjualan yang tinggi.
Sebagai produk baru, pertama, memang dukungan uji klinis berperan dalam menentukan arah kegiatan pemasaran. Dengan telah terbukti secara klinis, herbal medicine dapat di-endorse ke kalangan medis.
Kedua, dukungan manajemen untuk melihat bahwa pengembangan herbal medicine dari aspek pemasaran adalah kegiatan “investasi”. Dengan masuknya produk-produk herbal medicine ke dalam wilayah over the counter; yang kegiatan promosinya dilakukan langsung ke target market (end user). dimana, kegiatan pemasaran dilakukan melalui pendekatan promosi lini atas (above the line) melalui promosi televisi, radio, majalah, tabloid, atau surat khabar dan pendekatan promosi lini bawah (below the line) yaitu lewat leafling, brosur, direct selling, direct promotion, atau pendekatan ke dokter. Kegiatan pemasaran ini terang membutuhkan biaya marketing yang tidak sedikit. Oleh karena itu, dukungan manajemen sangat diharapkan untuk keberhasilan produk ini di pasar.

           









Sumber :
1.      Maharani Hasanah dan Devi Rusmin .TEKNOLOGI PENGELOLAAN BENIH BEBERAPA,TANAMAN OBAT DI INDONESIA.Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Jalan Tentara Pelajar No 3 Bogor 16111
3.      ffarmasi.unand.ac.id/RPKPS/Bahan_Ajar/.../Obat%20Tradisional.pdf
5.      http://aboealkhair.blogspot.com/2014/03/penelitian-dan-pengembangan-obat.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar